Belajar Menulis, Belajar Menjadi Orang Besar

Belajar Menulis, Belajar Menjadi Orang Besar.

oleh : Sukamto

Sejarah telah menyampaikan pesan, bahwa banyak orang tercatat sebagai orang besar karena tulisannya. Mereka menulis dan mereka dikenal hingga terus dikenang. Jaman tak lekang mengukir namanya sampai nominal tahun yang tak terbilang, prestatif.

Sebelum melaju pada paparan betapa urgentnya individu menyusun tulisan. Perlu dikemukakan sebuah rangkaian diksi singkat, “Apakah semua orang bisa menulis?”. Secara universal, kemungkinan jawaban yang akan diutarakan adalah “tidak” – “tidak semua orang bisa menulis”.

Namun dapatlah jawaban tersebut kita sanggahkan, di mana pada hakikatnya -mudahnya menulis itu semudah kita bicara. Tulislah seolah kamu sedang bicara dan tulislah hal-hal kecil hingga detil tentang apapun yang kita suka. Beranilah memulai keputusan untuk mau menulis.

Menulis itu bebas berekspresi, ia memiliki hak seluasnya untuk menyampaikan gagasan ide tanpa ada yg menghalangi. Batasannya hanya aturan nilai yang kita yakini dan aturan taat yang kita patuhi. Sejarah juga pernah menuliskan nama seorang Sayyid Qutb yang booming oleh karya fenomenalnya Fii Zilalil Quran. Karya tersebut dituntaskan semasa ia dalam pesakitan (penjara). Juga demikian dengan Soekarno semasa di dalam bui Sukamiskin pun juga dengan Pramoedya Ananta Toer yang menjulang dalam percaturan nama sastrawan melegenda dari tetralogi buku fenomenalnya.

Selalu ada alasan yang menjadikan seorang merasa tidak minat menulis, selalu ada pembelaan dan dalih penguat yang mereka utarakan. Mulai dari tidak ada waktu, tidak ada keterampilan, tidak ada ide dan gagasan yang harus dikembangkan dan disampaikan, bahkan alasan terklasiknya adalah; ia merasa tulisannya tak layak disebarluaskan ; bahasanya terlalu sederhana ; kurang menarik ; dan puluhan alasan lain.

Stop untuk membatasi diri dengan kecemasan dan ketakutan dalam menulis. Karena kecemasan dan ketakutan itulah yang mengantarkan kita pada belenggu yang mengungkung kebebasan merangkai kata dan menorehkan bahasa.

Berawal Dari Tema

Kita kembali bertanya apakah tema menulis? Menentukan tema adalah langkah awal seorang yang hendak menulis. Selain sama seperti berbicara, menulis itu juga seperti halnya saar kita mengambil jepretan gambar dalam kamera, ya, kita memfoto. Di mana seorang pemotret bisa dengan leluasa untuk mengambil objek yang menurut dia menarik dan layak untuk didokumentasikan, objek-objek yang ada di sekitar dia. Demikian pula dengan menulis. Objek gambar yang ada di sekitar kita itulah dalam dunia kepenulisan disebut dengan ide. Semakin tinggi intensitas seorang dalam membuat tulisan maka akan semakin tinggi juga kepekaan orang tersebut dalam menangkap ide yang bertebaran di sekelilingnya. Gagasan menulis begitu banyak yang berasal di sekitar kita, baik itu nyata maupun fiksi.

Seperti halnya Ibnu Khaldun, seorang tokoh, seorang penulis yang menuliskan tentang teori sosialnya. Tampak piawai ia mengamati, menghayati dan mengilmui setiap kejadian yang ada di sekitarnya, lantas berpikir mendalam dan mendokumentasikannya dalam bentuk ilmu sebagai warisan dan pelajaran, ia menulis. Hasil tulisannya hingga kini masih menjadi rujukan handal para sosiolog, pekerja sosial dan para pengamat sosial lainnya.

Pertanyaan penutup dalam kesempatan kali ini adalah, “Apakah menulis itu masih menjadi sebuah ritual yang susah?”, sudah saatnya untuk memulai dan berani mencoba. Asah kemampuan kita, bertahap adakan diskusi dengan kawan dan rekanan yang telah berkapasitas dalam dunia tulis menulis maka bukanlah hal yang mustahil jika cepat atau lambat kita akan piawai menulis. Perkuat sharing dan pembelajaran dengan mereka, ingatlah berteman dengan pandai besi akan terbawa bau besi, berteman dengan penjual minyak wangi akan tertular wangi. Selamat belajar menulis dan selamat mempersiapkan menjadi orang besar.

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest