Mendidik Tunas Milenial

Mendidik Tunas Milenial – Selamat Hari Pendidikan Nasional. Image-puzzleminds.com


Menyoal 2 Mei yang diperingati sebagai hari Pendidikan dengan mengambil akar sejarah pada lahirnya Ki Hadjar Dewantara yang dinobatkan sebagai Bapak Pendidikan bukan muara utama dari eksistensi peringatan momentum peringatan itu sendiri. Terlepas dari hiruk pikuknya upacara peringatan, perlombaan di dunia pendidikan dan ritual khas lainnya, 2 Mei hakikatnya adalah momentum untuk kembali menumbuhkan rasa patriotisme dan nasionalisme pada seluruh insan pendidikan, berkat pemikiran seorang Ki Hadjar Dewantara yang menjadi benih tumbuh dan berkembangnya pendidikan di Indonesia. Selanjutnya momentum tersebut juga dimanfaatkan untuk kembali melakukan evaluasi atas upaya mendidik yang selama ini berjalan dan merombak ulang menjadi sebuah perencanaan yang bersifat penyempurnaan para insan pendidikan, pun juga masyarakat secara meluas.

Ki Hadjar Dewantara mewariskan kukuhnya semboyan dalam melajukan roda pendidikan. Ing Ngarsa sung tulada, Ing Madya mangun karsa, Tut Wuri Handayani bukan semata semboyan sebagai penghias ruangan. Semboyan tersebut seyogyanya menjadi ruh bagi pelaku pendidikan, untuk memberi contoh, menguatkan dan senantiasa memberikan dukungan penguatan.

Diyakini sebagai usaha sadar dan terencana, pendidikan ditujukan untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran, agar peserta didik aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.

Meneropong sasaran pendidikan, mendidik generasi millenial. Di mana generasi Millenial adalah genarasi yang dilahirkan antara tahun 1982-2000. Semula akan akan dipopulerkan sebagai generasi Y karena merupakan generasi penerus dari generasi X, tetapi mengalami resistensi. Mengingat generasi ini menandai datangnya millennium baru yaitu millennia 21, maka penyebutan generasi millennia lebih diterima dan lebih popular dari pada generasi Y.

Dengan perkembangan teknologi dan komputer yang semakin maju, generasi ini tumbuh dalam iklim yang sangat “kental” dengan teknologi dan serbuan informasi yang cepat dan canggih. Generasi ini adalah generasi yang cepat menerima dan mengadopsi informasi yang lebih cepat, dan akan mencapai kebosanan apabila menjalani metode pelajaran tradisional. Generasi Millenials muncul untuk menjadi generasi yang muncul untuk menjadi teknologi yang paling canggih, yang mencakup teknologi muktahir seperti iPod, MP3s, kamera ponsel, PDA, kamera digital dan DVD Player. Generasi Millenal disebut sebagai anak-anak remote control karena mereka menghadapi perubahan yang terus menerus. Mereka selalu mencari tantangan, mempunyai rencana jangka panjang, optimistic, menghargai pengalaman pribadi dan punya pemikiran yang kritis.

Gaya belajar generasi millennial adalah berbasis indra (misalnya visual, audio dan lainnya) yang berbasis kepada kepribadian dan bakat mereka. Karena dalam kehidupan mereka sehari-hari teknologi sudah menjadi bagian dari hidup mereka dan merupakan abad informasi untuk mereka dalam mencerminkan pola pikir mereka dalam gaya belajar pada generasi millineal ini. Generasi ini memperlihatkan gaya belajar yang berbeda. Pembelajaran mereka tercermin lebih interaktif melalui kerjasama tim, pengalaman, kolaborasi dan kelompok berpikir, mandiri dan tersturuktur dalam penggunaan teknologi.

Dengan beragam pertimbangan terkait siapa generasi millenial dan tipe serta kebutuhan khusus dalam proses belajar generasi ini maka dibutuhkanlah ragam inovasi, improvisasi dan kreativitas tinggi untuk memenuhi kebutuhan akan pendidikan generasi millenial. Tampaknya adalah benar ketika satu strategi yang disajikan untuk mendidik generasi millenial adalah yang mendasar pada analisa sasaran pendidikan dipadu-padankan dengan kebutuhan pendidikan serta karakteristik kunci. Semoga upaya mendidik ke depannya benar memberi manfaat dalam mendidik, bercahaya dan menghangatkan sasaran pendidikan (red : tepat sasaran). Bukankah “Pendidikan tidak seperti isi sebuah ember, tetapi seperti cahaya dari kobaran api” ? tandas seorang William Butler Yeats. (ske/ern)

Mendidik Tunas Milenial – Selamat Hari Pendidikan Nasional 2017 #Hardiknas2017

Related Post

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

Tentang Redaksi

KampoengNgawi

KampoengNgawi merupakan media bebas yang menampilkan informasi seputar Ngawi dari semua sektor dan kondisi yang ada di Ngawi dan semua hal yang terkait dengan Ngawi.

Kirim press release, artikel, liputan, jadwal event ke:
redaksi[at]kampoengngawi.com