Pemuda Millenial – Tantangan Menjadi Arsip Bangsa

Artikel Pemenang Lomba Menulis Esai dalam rangka Sumpah Pemuda kategori SMA/Sederajat
Judul Esai : Pemuda Millenial – Tantangan Menjadi Arsip Bangsa
Penulis : Dwi Setyo Sulistyono
Asal Sekolah : SMA Negeri 2 Ngawi
Ilustrasi Gambar : Sumpah Pemuda adakah dalam jiwa pemuda Indonesia.(Google)


Pemuda adalah generasi penting dalam mencapai nawacita bangsa. Di usia yang produktif, pemuda tumbuh menjadi generasi yang kreatif, inovatif, cerdas, dan berjiwa sosial. Pemuda menjadi harapan negeri ini dalam menghapus akar-akar permasalahan yang terus datang menghampiri jati diri bangsa. Di era masa kini, peran pemuda sangat dibutuhkan dalam mengembalikan karakter bangsa yang dianggap sudah mulai hilang dari kepribadian bangsa Indonesia. Tentunya hal ini menjadi tugas khusus bagi pemuda masa kini, seiring dengan banyaknya teknologi canggih dan maraknya aksi-aksi kekinian yang membuat tanggung jawab pemuda semakin dipertanyakan dalam kehidupan bermasyarakat. Pemuda seharusnya menjadi potensi unggul dalam membangun integritas dan ketahanan suatu bangsa. Kepercayaan terhadap pemuda sekarang ini, cenderung menurun akibat pergaulan yang konon dianggap menyimpang dan berpengaruh pada kehidupan pemuda zaman sekarang. Kehidupan hedonis yang mulai mengkhawatirkan memicu hilangnya budaya ketimuran dari dalam diri pemuda Indonesia.

“Pemuda Millenial” atau yang biasa dikenal dengan istilah pemuda kekinian, menjadi perhatian publik yang terus diperbincangkan. Bukan karena aksi-aksi positif yang ditampilkan, “Pemuda Millenial” justru menjadi kiblat negatif remaja masa kini. Dengan maraknya penggunaan gadget yang makin meningkat, “Pemuda Millenial” seolah hidup didalam dunianya sendiri. Mereka terkesan vulgar dalam menyampaikan pikiran dan perasaan yang mereka hadapi. Anehnya, mereka sangat bangga melakukannya tanpa melihat bagaimana orang-orang yang ada disekitarnya. Handphone sungguh menjadi kekasih yang paling berharga bagi “Pemuda Millenial”, hingga mereka sulit dipisahkan sampai ke kamar mandi sekalipun. Gila teknologi itulah tanggapan publik tentang pemuda sekarang ini, publik mengharapkan pemuda yang berjalan menatap ke depan, pemuda yang makan dengan memperhatikan makanannya, pemuda yang bisa membagi waktu dengan kehidupan nyatanya.

Pemuda Millenial Sejati

Orang tua memiliki peran penting dalam membentuk moral dan kepribadian pemuda sekarang ini. Ungkapan “ Generasi Amoral “ dapat merusak identitas pemuda yang kian buruk di mata dunia. Tantangan ini akan terus berlanjut tanpa perubahan dalam diri pemuda, khususnya mereka yang tumbuh di dunia pendidikan. Mental pesimis pemuda menjadi masalah utama untuk menjernihkan ketangguhan pemuda masa kini. Indonesia memerlukan pemuda yang yakin akan dirinya, mampu membawa negeri ini berdiri tegak dalam arus globalisasi yang semakin menjadi-jadi. Komitmen “Pemuda Millenial ” harus benar-benar kita pegang teguh untuk mengurangi degenerasi moral yang semakin keruh ditengah peradaban teknologi. Dunia mode, kehidupan malam, electronic music, dan modernitas membuat pemuda seakan-akan tumbuh didalam krisis global. Kehidupan pemuda yang lebih nyaman dengan kesendirian, mendorong semakin cepatnya kegagapan berkomunikasi dengan dunia sekitar.

Dejavu momen sejarah tahun 1928, mungkin itulah yang ingin diberikan kepada semua pemuda Indonesia. Mengingat bagaimana pemuda dapat tumbuh dimanapun tanpa sebutan teknologi. Sungguh hal luar biasa kala itu, penderitaan yang dialami pemuda era empat lima menjadikan mereka pemuda sejati yang begitu gagahnya mengangkat dagu tanpa merasa malu. Mau tidak mau, kita sebagai “Pemuda Millenial” akan terus dibandingkan dengan apa yang diberikan pemuda kala itu untuk negara tercintanya. Hal itulah yang seharusnya mendorong kita untuk menumbuhkan rasa tidak ingin kalah dalam membangun negeri kita ini, menjadi negeri yang siap menjadi teladan dunia. Potret pemuda masa kini yang memiliki senyum diwajahnya benar-benar sangat dirindukan, pemuda yang menunduk ketika berjalan didepan orang tua, semangat belajar yang dapat membawa kita menjunjung tinggi identitas bangsa yang orisinil.

Sejauh mana kaki kita melangkah, maka kita harus kembali pada negeri kita. “Pemuda Millenial” tidak selayaknya disimbolkan sebagai pemuda yang gagal ataupun bertingkah kebarat-baratan. “Pemuda Millenial” adalah mereka yang harus siap membawa nama Indonesia dalam percaturan internasional. Kebangkitan pemuda masa kini harus didukung dalam bentuk apapun, mengajak untuk cinta dengan bangsa memang sangat sulit, namun kita bisa mencapainya dengan membulatkan pikiran dan hati. Lalu apa yang harus dilakukan pemuda sekarang ini ?

Saya terdorong untuk memberikan beberapa hal dalam mengaplikasikan peran “Pemuda Millenial” dengan dunianya, yaitu teknologi. Membawa prinsip sejati sebagai “Pemuda Millenial” yang sesungguhnya, berikut implementasi yang saya berikan :

  1. Komunitas Aplikasi Pintar

    Membangun komunitas menjadi modal bagi mereka untuk membangun karakter dan bakat yang dimiliki. Komunitas positif sebagai wadah menampung kegilaan gadget dengan menciptakan internet sehat yang menguntungkan. Pemuda bisa membuat aplikasi pintar yang digunakan untuk mencerdaskan bangsa ini dengan metode yang menarik dan tentunya kreatif. Apabila itu dilakukan, kesan kegilaan tersebut berubah menjadi positif karena mereka mampu mengatur waktu dan mampu menjadi pemuda yang sesungguhnya. Kita bisa bersama-sama menyatukan hobi untuk membangun negeri yang pemudanya mampu memanfaatkan fasilitas yang semakin canggih.

  2. Pemuda Online Shop

    Kebutuhan masyarakat yang semakin beragam, harusnya membuat kita untuk memanfaatkan kesempatan guna menciptakan peluang usaha. Pemuda Millenial tidak selalu harus menjadi konsumen, tetapi kita bisa mengubah arah menjadi produsen. Apalagi kita bisa membangun hubungan dengan banyak orang, hal tersebut dapat meningkatkan skill dan pengalaman kita. Memanfaatkan teknologi yang ada dapat meningkatkan kontribusi kita dalam membangun pemenuhan kehidupan masyarakat Indonesia.

  3. Normalisasi Budaya Indonesia

    Budaya yang hampir terkikis ini, jangan pernah kita lupakan. Pemuda Millenial bisa menggunakan social media yang mereka miliki untuk mempromosikan budaya Indonesia sebagai warisan leluhur. Budaya tersebut sebagai daya tarik turis untuk menjadikan Indonesia sebagai negara tujuan wisata budaya dunia. Sebagai pemuda seharusnya kita bangga dan bersemangat untuk memajukan sektor yang dapat menambah devisa negara kita.

Pemuda Millenial menjadi arsip bangsa yang harus didukung untuk memajukan negeri ini, bukan hanya sebagai kiblat buruk remaja Indonesia. Beri Indonesia satu “Pemuda Millenial”, maka perhatikan bagaimana dunia menatap tinggi bangsa kita.

Related Post

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

Tentang Redaksi

KampoengNgawi

KampoengNgawi merupakan media bebas yang menampilkan informasi seputar Ngawi dari semua sektor dan kondisi yang ada di Ngawi dan semua hal yang terkait dengan Ngawi.

Kirim press release, artikel, liputan, jadwal event ke:
redaksi[at]kampoengngawi.com