Resah dan Kurang Bahagia

Resah dan Kurang Bahagia – Dikirim oleh : Nisa | Pada : 27-01-2017

Konsultasi:

Selamat sore Pak.
Saya Nisa. Saya dari Ngawi timur. Dan saya mahasiswa di salah satu Universitas Negeri di Semarang. Terimakasih banyak jika bapak bersedia mendengarkan curahan hati saya dan memberikan pencerahan

Jadi begini pak, saya bingung, Saya lelah, Saya tidak tahu harus berbuat seperti apa. Hati saya selalu merasa resah dan kurang bahagia. Seperti ada beban yang menghimpit hati dan pikiran saya. Saya sering marah – marah. Saya punya kekasih yang sangat saya sayangi. Tapi saya sering marah kepadanya karena kesalahan – kesalahan kecil. Mungkin karena saya takut dia mengecewakan saya lagi setelah pernah meninggalkan saya tanpa kabar 3x. Tapi saya sangat menyayangi dan mencintainya. Saya harus bagaimana pak. Mohon jawabannya.

Terimakasih.


Mbak Nisa di Ngawi Timur yang indah, kami sudah membaca dengan seksama kisah mbak Nisa yang meghimpit hati dan pikiran. Mbak Nisa yang lelah, hingga selalu merasa resah. Dan kurang bahagia. Tenang saja mbak Nisa. Karena mbak Nisa tidak sendiri. Dilema cinta yang mbak Nisa hadapi saat ini, banyak dialami oleh teman-teman kita yang lain koq. Kami juga banyak menerima curhat serupa. Saat kita sudah begitu mencintai, tapi pasangan membalasnya dengan taksebanding. Kita sudah sangat menyayangi, tapi masih sering marah-marah padanya. Kita ingin mencoba mencintai sepenuh hati, tapi takut dikecewakan lagi. Begitulah cinta, dilemanya sungguh tak terkira. Hehe…

Saat cinta mengalami dilema
pastilah ada kata yang dusta
karena cinta sejati hanyalah menentramkan
Cinta sejati takkan menghimpit hati
Takkan tega melelahkan pikiran
Bahkan tak bisa untuk meresahkan

Mbak Nisa yang baik. Keresahan hati kita karena cinta, pastilah karena komunikasi yang tidak bisa berjalan baik dan benar antar pasangan. Karena, seberat apapun masalah yang menimpa dalam hubungan cinta. Asalkan masih ada komunikasi yang baik dan benar. Pasti masalah tersebut bisa diatasi. Sebaliknya, saat komunikasi sudah tak lagi hangat dan saling menyenangkan. Masalah kecil bisa jadi besar. Dan masalah besar akan meledak.

Coba mbak Nisa amati, bagaimana kualitas (bukan kuantitas lho ya) komunikasi anda dan dia saat ini. Apakah masih hangat dan nyaman…Kalau kualitas komunikasi anda masih sebagus di awal hubungan. Berarti akan lebih mudah. Tapi kalau kualitas komunikasi kita sudah mengalami penurunan daripada di awal. Bahkan sudah tak bisa hangat dan nyaman lagi. Berarti ada yang salah dengan komunikasi kita. Karena kunci keberlangsungan cinta adalah pada komunikasi yang baik dan benar.

Lalu, bagaimana agar komunikasi bisa berjalan dengan baik dan benar ?
syaratnya, yaitu ‘saling jujur dan terbuka’. Kedua belah pihak. Tidak bisa salah satu saja. Kalau salah satu, namanya bertepuk sebelah tangan. Kalau bertepuk sebelah tangan namanya bukan komunikasi, tapi ngomong sendiri J

Apakah anda dan dia sudah berkomunikasi dengan jujur dan terbuka ?
Kalau komunikasi kita sudah jujur. Tentu takkan ada ceritanya meninggalkan pasangan tanpa kabar. Karena komunikasi adalah saling berkirim kabar. Tidak bisa ketemu, masih ada HP. Pulsa habis ada paket data. Paket data habis, banyak WiFi gratis.
Kalau komunikasi kita sudah terbuka. Maka tidak lagi diperlukan marah. Karena kebanyakan marah adalah ekspresi dari perasaan yang lama dipendam. Saat pemicu datang, keluarlah perasaan terpendam itu menjadi marah.

Bisa jadi kita sudah jujur. Tapi pasangan kita yang belum jujur. Disitu diperlukan keberanian kita untuk mengingatkan dengan baik-baik. Tidak perlu marah. Karena tidak ada orang yang suka dimarahi. Meskipun dia salah. Orang yang dimarahi pasti akan membalas dengan marah. Atau mungkin dia diam saja, tapi memendam. Jadi mengingatkan pasangan haruslah dengan cara yang baik.

Bagaimana kalau sudah diingatkan, tapi tidak mau menerima ?
Kalau kita sudah yakin dengan apa yang kita sampaikan. Bahwa itu adalah jujur dari hati nurani kita. Bukan karena nafsu. Maka itulah kebenaran. Kalau kita sudah mengingatkan hal yang benar, dengan cara yang baik. Tapi masih belum bisa diterima. Berarti dia bukanlah orang yang tepat bagi kita. Karena hukum alam dalam cinta adalah: orang yang baik akan berjodoh dengan orang yang baik. Sedangkan dia menolak kebenaran dan kebaikan yang sudah kita yakini sepenuh hati. Berarti dia tidak baik untuk kita.

Bagaimana kalau saat diingatkan, dia menerima. Tapi dalam perbuatan dia mengingkari ?
Berarti dia tidak jujur. Tinggal diminta komitmennya saja untuk berubah jadi jujur. Kalau tidak mau, berarti dia tidak baik untuk kita. Kalau dia mau, Kita berikan kesempatan untuk memperbaiki diri.

Setelah diberi kesempatan, ternyata masih melanggar kesepakatan ?
Berarti anda orang yang baik, karena mau memaafkan. Dan dia orang yang tidak baik karena ingkar janji berulang kali. Dan orang yang tidak baik bukanlah jodoh yang tepat bagi orang baik. Kecuali anda mau resah dan terhimpit hati seumur hidup karena cinta yang dusta.

OK dia orang yang tidak baik, tapi saya sangat mencintainya ?
Berarti anda membohongi hati nurani anda. Karena anda rela mengorbankan kebenaran hati nurani, demi menuruti dia yang berulangkali mengingkari hati nuraninya. Disitulah secara tidak sadar, kita sedang mengundang lelah, resah, kecewa, sedih, dan marah untuk masuk ke hati kita.

Tapi saya ingin memperbaikinya?
Begitulah semangatnya cinta, bersemangat untuk memperbaiki pasangan kita. Memperbaiki orang lain itu sangatlah baik. Tapi kita takkan mampu memperbaiki orang lain, saat hati kita penuh lelah, resah, kecewa, dan marah. Sebaiknya kita fokus memperbaiki diri sendiri terlebih dahulu.

Saya tambah bingung ?
Karena kita hanya manusia biasa. Punya banyak keterbatasan. Semakin memikirkan orang lain, kita akan semakin bingung. Karena memikirkan diri sendiri saja sudah bingung koq…. Maka mengadulah pada Allah Yang Mahamencintai…yang cintanya takpernah dusta. Yang Mahamencintai artinya adalah pemilik seluruh cinta di bumi dan di langit. Dia lah yang paling tahu mana cinta yang dusta dan mana cinta sejati. Mohonlah petunjuk pada Allah Yang Mahapemberi petunjuk. Untuk menunjukkan pada kita, mana jalan terbaik kita. Mana pasangan terbaik kita. Dan yang Mahamencintai takkan pernah membiarkan hambaNya kecewa karena doanya takterkabulkan. Asalkan kita memenuhi syarat-syarat dikabulkannya doa, insyaAllah hati kita akan menjadi bahagia kembali.


Pengasuh Konsultasi Psikologi :
Budiarna Nur Rochmad, S.Psi
Sarjana Psikologi Universitas Airlangga
Konsultan Publik Pemerintahan
Konsultan Psikologi Anak – Surabaya

Mau Konsultasi Gratis??? Silakan kirim uneg – unegmu ke redaksi@kampoengngawi.com dengan subject : KONSULTASI dan temukan sharing dari pakarnya nya disini..

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest