Atasi Anak Super Aktif

Assalamu’alaikum pak budiarna,

Saya seorang pedagang di pasar ngawi. Saya mau nanya perihal anak. Apakah bisa diberikan saran dan informasi seputar psikologi anak?

Begini, anak saya tergolong anak yang cukup aktif bahkan sedikit lebih aktif dari anak seumurannya, sampai – sampai kadang berteriak – teriak saat melakukan sesuatu.Usia 4 tahun hampir 5 tahun. Dari lingkungan, kami memang belum menyekolahkan dia seperti yang terjadi di kota besar misalnya masuk PAUD dan sebagainya.

Pertanyaannya: Bagaimana pola pengasuhan anak yang seperti ini, saya pernah baca, katanya dibiarkan saja, tapi saya mendapat beberapa masukan dari tetangga, kalau sepertinya anak saya perlu dikonsultasikan lebih lanjut dengan kondisinya sekarang.

Menurut para tetangga, anak saya berteriaknya kurang wajar, meski sebenarnya sedang bermain.

Terimakasih. | Tuti – Ngawi


Wa’alaikumsalam Bu tuti, berikut ini informasi sharing dari pakar psikologi kita untuk tips Atasi Anak Super Aktif dan pola asuh anak. Mari kita simak yaa

Sebenarnya punya anak yang ‘lebih aktif’ dibanding teman-teman seusianya itu “lebih menyenangkan” lho Bu Tuti, dibanding kalau anak kita “lebih pasif” dari teman-temannya. Anak yang aktif, apalagi yang lebih aktif, atau bahkan sangat aktif adalah anak-anak yang punya energi lebih untuk belajar. Senang sekali bukan, punya anak yang bersemangat belajar tingi ? Sementara betapa banyaknya orang tua yang mengeluh kesulitan meminta anaknya agar mau belajar.

Hanya saja banyak dari kita yang kadang salah kaprah dalam memahami arti kata “belajar” pada anak. Karena belajar pada anak tidak sama dengan belajar pada masa remaja, belajar ala mahasiswa, ataupun belajarnya orang dewasa. Beda. Mari kita lihat arti belajar bagi seorang anak:

  1. Hidup adalah sebuah permainan. maka anak-anak untuk pertama kalinya setelah datang di dunia, mereka akan belajar untuk hidup. Karena hidup adalah sebuah permainan, maka belajarnya anak adalah dengan cara bermain. ya…Anak belajar dengan cara bermain. Maka benar sekali pernyataan “dunia anak adalah dunia bermain”. Ayo kita bermain bersama anak. Yah, orangtua sebaiknya bermain langsung dengan anak. Kalau tidak, anak akan kehilangan figur orang tua. Padahal pembelajaran terbaik adalah dari orang tua sendiri, yang pasti telaten dan takkan mungkin menjerumuskan. Dan ingat pembelajaran bagi anak adalah lewat bermain. Jadi. orang tua harus sesering dan sebanyak mungkin bermain dengan anak. Anak-anak yang aktif berlebihan, semestinya karena bakat bermainnya kurang tersalurkan. Atau mungkin sudah tersalurkan, tapi merindukan untuk bermain dengan orangtua-yang jarang didapatkannya.

    Bermain apa saja yang bermanfaat dan mengandung pembelajaran. Atau buat sekedar refreshing. misal lomba lari, digendong, lempar bola, ataupun berbagai macam olahraga yang akan menyehatkannya. Belajar renang sejak dini, sepakbola atau bisa bulutangkis, dsb. Bisa juga bermain menyusun balok/puzzle/lego, menggambar, dsb. Asal jangan dibiarkan anak bermain dengan internet, game online, handphone, dan aneka gadget lainnya. Dijamin anak akan asyik dan tidak rewel, tapi akan semakin jauh, dan jauuuh dari kita. anak hanya akan asyik dengan dunia maya nya.

  2. “Dunia ini panggung sandiwara”, begitu nyanyi Nike Ardilla yang pasti sudah akrab bagi kita. Panggung sandiwara adalah sebuah pementasan cerita yang begitu menarik disajikan. Jalan ceritanya negitu sulit ditebak. menegangkan, mengharukan, menyedihkan,menggembirakan, penuh tantangan. Begitupun anak-anak kita, coba diajak menonton sebuah sandiwara, film, dongeng, atau cerita apapun. Pasti sangat senang bukan. itulah fitrah telinga anak. Anak senang mendengarkan cerita. Sebaliknya, coba ajak anak melihat acara debat di televisi, pembelaan diri para tersangka korupsi, pidato para politikus, ceramah atau nasehat-nasehat dari orang dewasa di televisi. Hayo lebih senang mana anak kita, mendengarkan cerita atau ceramah ?…….:) tentu anak akan lebih senang mendengarkan cerita. Ini adalah sebuah jawaban atas pertanyaan,”mengapa anak kita sering tidak mendengarkan nasehat orang tua? tapi malah hafal lagu2 atau cerita di televisi ? Karena anak lebih suka mendengarkan cerita. Nah, mari perhatikan apa yang kita sampaikan ke anak, lebih banyak berupa cerita atau ceramah ?

    Efek cerita itu sungguh dahsyat Bu. Begitulah nasehat terbaik akan menancap pada pikiran dan tindakan anak kalau kita masukkan lewat imajinasinya, lewat cerita. Masih ingat dulu Nenek atau Kakek sering mendongeng pada kita ? sebenarnya itulah nasehat utama yang sedang disampaikan, tanpa menggurui. anak akan begitu khidmat mendengarkannya. Ibu bisa bercerita tentang kisah jaman dulu misalnya. ada seorang anak yang suka teriak-teriak, akhirnya dibenci teman-temannya. Sedang ada temannya yang aktif tapi tidak suka teriak-teriak, akhirnya disayang oleh temannya. Atau tokohnya adalah binatang. Cerita tentang kehidupan binatang sangat disukai anak-anak.

  3. Hidup adalah Perjuangan. Sekarang saatnya belajar disiplin. Kalau kita sudah lakukan dua tips diatas:

    • Sering bermain sepenuh hati dengan anak,
    • Selipkan nasehat lewat cerita yang menarik, baru bisa kita lakukan
    • Belajar disiplin. Ini rahasianya. Anak adalah Peniru yang ulung. Siapakah yang paling sering ditiru anak? orang-orang disekelilingnya, yang sering berinteraksi dengannya. Termasuk kita. Sederhana, tapi tidak mudah. Disiplinkan diri kita. Ayo disiplin orang-orang seisi rumah, anak pasti akan ikut disiplin.

    Tidak mengapa membuat perjanjian dengan anak. Misalnya anak pengin dibelikan mainan A. Kita berikan aturannya. Anak akan kita belikan mainan A asalkan dia sudah bisa melakukan B. B ini bisa berupa anak sopan dengan orang tua, bisa berbicara krama, anak tidak suka teriak-teriak, anak mau membantu ibu, dsb. Dan A adalah sebagai hadiahnya yang pantas ia dapatkan berkat kegigihannya belajar jadi anak yang benar dan baik.

Demikian Bu Tuti, 3 tips pola asuh untuk ananda…semoga bisa bermanfaat. 3 hal diatas memang berat Bu bagi sebagian orang tua di jaman sekarang. Tapi itulah senjata ampuh orang tua untuk bisa mendidik anak kita. Berat di awal, kalau sudah terbiasa akan ringan dan membuat ketagihan. Dan hasilnya akan kita petik nanti, saat anak kita sudah beranjak remaja dan dewasa. Berakit-rakit ke hulu, berenang ke tepian. Bersusah-susah dahulu, baru bersenang-senang kemudian


Pengasuh Konsultasi Psikologi :
Budiarna Nur Rochmad, SPsi
Sarjana Psikologi Universitas Airlangga
Konsultan Publik Pemerintahan
Konsultan Psikologi Anak – Surabaya

Mau Konsultasi Gratis??? Silakan kirim uneg – unegmu ke redaksi@kampoengngawi.com dengan subject : KONSULTASI dan temukan sharing dari pakarnya nya disini..

Related Post

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

Tentang Redaksi

KampoengNgawi

KampoengNgawi merupakan media bebas yang menampilkan informasi seputar Ngawi dari semua sektor dan kondisi yang ada di Ngawi dan semua hal yang terkait dengan Ngawi.

Kirim press release, artikel, liputan, jadwal event ke:
redaksi[at]kampoengngawi.com