Aksi 215 Nasyiatul Aisyiyah Ngawi Kampanyekan Stop Kekerasan

Aksi 215 Nasyiatul Aisyiyah Ngawi Kampanyekan Stop Kekerasan. Foto-rsp


NGAWI – Kekerasan semakin marak. Kekerasan terjadi dimana-mana. Setiap hari selalu ada kasus yang bergulir. Bisa dipastikan banyak sekali kasus yang belum terlaporkan karena malu atau pun menyadari bahwa dialah penyebab kekerasan.

Aksi 215 Nasyiatul Aisyiyah Ngawi Kampanyekan Stop Kekerasan. Masih dalam rangka perayaan Milad (hari lahir) Nasyiatul Aisyiyah yang jatuh pada tanggal 16 Mei, Nasyiatul Aisyiyah Ngawi menggelar Aksi 215. Dinamakan Aksi 215 karena aksi ini berlangsung pada tanggal 21 Mei (21/05/2017).

Beberapa anggota Nasyiatul Aisyiyah Ngawi melakukan pembagian buletin dan stiker di seputaran alun – alun Ngawi bersamaan dengan acara Car Free Day. Beberapa informasi terkait kampanye stop kekerasan wanita dan anak disertakan dalam aksi ini.

Seperti yang tertulis dalam buletin yang disebarkan, berikut ini sedikit rangkuman berbagai tindak kekerasan yang sering terjadi dan menimbulkan korban dikalangan perempuan :

  1. Kekerasan Emosional (emotional abuse) : Emotional abuse terjadi ketika orang tua/pengasuh dan pelindung anak setelah mengetahui anaknya meminta perhatian, mengabaikan anak itu. Ia membiarkan anak basah atau lapar karena ibu terlalu sibuk atau tidak ingin diganggu pada waktu itu. Ia boleh jadi mengabaikan kebutuhan anak untuk dipeluk atau dilindungi. Anak akan mengingat semua kekerasan emosional jika kekerasan emosional itu berlangsung konsisten. Orang tua yang secara emosional berlaku keji pada anaknya akan terusmenerus melakukan hal sama sepanjang kehidupan anak itu.

  2. Kekerasan secara Verbal (verbal abuse) : Biasanya berupa perilaku verbal dimana pelaku melakukan pola komunikasi yang berisi penghinaan, ataupun kata-kata yang melecehkan anak. Pelaku biasanya melakukan tindakan mental abuse, menyalahkan, melabeli, atau juga mengkambinghitamkan.

  3. Kekerasan Seksual (sexual abuse) : Sexual abuse meliputi pemaksaan hubungan seksual yang dilakukan terhadap orang yang menetap dalam lingkup rumah tangga tersebut (seperti istri, anak dan pekerja rumah tangga). Selanjutnya dijelaskan bahwa sexual abuse adalah setiap perbuatan yang berupa pemaksaan hubungan seksual, pemaksaan hubungan seksual dengan cara tidak wajar dan atau tidak disukai, pemaksaan hubungan seksual dengan orang lain untuk tujuan komersil dan atau tujuan tertentu.

  4. Kekerasan fisik (physical abuse) : Physical abuse, terjadi ketika orang tua/pengasuh dan pelindung anak memukul anak (ketika anak sebenarnya memerlukan perhatian). Pukulan akan diingat anak itu jika kekerasan fisik itu berlangsung dalam periode tertentu. Kekerasan yang dilakukan seseorang berupa melukai bagian tubuh anak.

  5. Kekerasan ekonomi : Kekerasan yang berujung pada penelantaran ekonomi.

Menurut data yang ada di buletin ini, di Jawa Timur kekerasan terhadap istri (KTI) menempati peringkat pertama, disusul kekerasan dalam pacaran, kekerasan terhadap anak perempuan dan sisanya kekerasan mantan suami, kekerasan mantan pacar, serta kekerasan terhadap pekerja rumah tangga, kekerasan komunitas, kekerasan seksual (pencabulan, perkosaan, percobaan perkosaan, pelecehan seksual, melarikan anak perempuan, dan kekerasan seksual lain).(rsp/cse)

Related Post

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

Tentang Redaksi

KampoengNgawi

KampoengNgawi merupakan media bebas yang menampilkan informasi seputar Ngawi dari semua sektor dan kondisi yang ada di Ngawi dan semua hal yang terkait dengan Ngawi.

Kirim press release, artikel, liputan, jadwal event ke:
redaksi[at]kampoengngawi.com