Berbagai Potensi Lokal Disuguhkan dalam Festival Tradisi Desa Mojo

Kothekan Lesung, salah satu kegiatan yang ditampilkan dalam festival tradisi desa Mojo. Foto-Istimewa/Ari

BRINGIN — Setelah sukses dengan Festival “Sarwo Kuno” yang digelar beberapa waktu lalu, desa Mojo kembali menyuguhkan potensi kearifan lokal dari desanya dengan agenda Festival Tradisi 10.000 Dramenan (Terompet Tradisi)

Diprakarsai oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), selama 2 hari, Jumat-Sabtu (5-6/10/2018) desa Mojo menggelar Festival Tradisi 10.000 Dramenan yang tentunya begitu spektakular. Dalam rangkaian acara, panitia juga masih menampilkan berbagai permainan adat dan tradisi Lesung.

Selain diawali dengan Kirab Carnival Budaya, Pokdarwis menyiapkan 5 titik untuk pertunjukan Kotekhan (permainan musik) Lesung, serta bazar produk unggulan desa Mojo di 15 titik di sepanjang desa Mojo yang begitu meriah diikuti seluruh masyarakat. Bazar dikemas dalam bentuk stand gubuk yang masih tradisional, sehingga sangat kental dengan kesan tradisi kuno.

Salah satu pengunjung yang berasal dari Kabupaten Blora mengaku bahwa ia teringat masa kecilnya ketika melihat serangkaian acara di desa Mojo ini.

“Saya dari Blora, jauh-jauh ke Ngawi untuk menyaksikan Festival Tradisi ini, acaranya sangat keren, warga bekerja sama dengan baik, saya jadi teringat masa kecil dulu,” terang Yanto salah satu pengunjung.

Selain bisa menikmati berbagai hiburan yang ada, pengunjung juga bisa mencoba langsung proses mewarnai batik. Panitia telah menyediakan kain sepanjang 100 meter yang sengaja disiapkan untuk para pengunjung agar tidak hanya bisa melihat, namun mencoba salah satu proses membuat batik.

Berbagai Potensi Lokal Disuguhkan dalam Festival Tradisi Desa Mojo. Menuju Desa Wisata Tradisi, Mojo terus mencoba menggali dan mengembangkan potensi yang ada, serta mempertahankan adat yang telah lama terpendam dan hampir dilupakan oleh masyarakat modern. Melalui pertunjukan permainan tradisional, acara ini mengajak masyarakat untuk bernostalgia.

Disampaikan oleh Ketua Lembaga Adat Desa Mojo, Sukadi, ia menyadari sepenuhnya dampak kegiatan ini sangat luar biasa untuk ekonomi masyarakat.

“Sudah dua kali festival ini digelar di tahun 2018 ini, semua berjalan sukses berkat dukungan dari seluruh masyarakat,” ujarnya.

Lebih lanjut ia menyebutkan, semua orang terlibat langsung baik kesenian, bakulan, parkir, atau kegiatan lainya menjadikan semua berjalan dengan baik dan lancar. Ia mengupayakan kegiatan ini akan terus diselenggarakan dan terjadwal dengan baik, sehingga bisa menjadi salah satu alternatif kunjungan wisata bagi masyarakat Ngawi dan tentunya luar kota.

Seperti pantauan dari redaksi, kegiatan ini juga dimeriahkan dengan fashion show pakaian tradisional, adu sabet dalang remaja, kontes 10 gembrung ucul, pagelaran jaranan, lomba langen bekso, guyon maton, dan pagelaran wayang kulit dalang bocah.
(fri/cse)

Related Post

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

Tentang Redaksi

KampoengNgawi

KampoengNgawi merupakan media bebas yang menampilkan informasi seputar Ngawi dari semua sektor dan kondisi yang ada di Ngawi dan semua hal yang terkait dengan Ngawi.

Kirim press release, artikel, liputan, jadwal event ke:
redaksi[at]kampoengngawi.com