Guna menggenjot industri meubel dan furniture mampu bersaing di pasar nasional maupun global didaerah perlu adanya wadah bagi pengusaha yang bergerak dibidang kerajinan berbahan kayu maupun rotan. Kamar Dagang Indonesia (KADIN) Cabang Ngawi secara resmi melantik jajaran pengurus Asosiasi Meubel dan Kerajinan Rotan Indonesia (AMKRI) cabang Ngawi periode 2014-2019, Senin (20/10).
Dikutip dari SiagaIndonesia, pelantikan yang digelar di Pendopo Wedya Graha Kabupaten Ngawi dihadiri langsung Ketua DPD AMKRI Jawa Timur Nur Cahyudi, Sekretrais Herlina Lee dan Peter Tjoe sebagai Ketua Bidang Pemasaran. Agenda pelantikan sendiri ditandai dengan pengalungan ID Card oleh Bupati Ngawi Budi Sulistyono kepada Rupiyanti Ketua AMKRI Cabang Ngawi berikut seluruh pengurusnya.
Usai acara Rupiyanti mengatakan AMKRI Cabang Ngawi dibentuk sebagai wadah untuk mengangkat para pengrajin berskala kecil menengah ditingkat daerah. “Kedepanya dalam menghadapi pasar bebas para pengrajin yang sudah mempunyai wadah ini akan mampu bersaing ditingkatan nasional maupun global sesuai regulasinya,” paparnya.
Kemudian menyangkut diterapkanya tentang sertifikasi sistem verifikasi legalitas kayu (SVLK) pihaknya mengaku siap regulasi yang diterapkan pemerintah mulai Februari 2014 tersebut. Dengan aturan tersebut diyakini seluruh anggota yang tergabung AMKRI Cabang Ngawi berjumlah 80 pengusaha secara bertahap akan memegang SVLK semua.
Namun demikian guna kepengurusan SVLK sendiri Rupiyanti berharap kepada Pemkab Ngawi mampu menjebatani agar produk yang dihasilkan pengrajinya diakui di pasar. Sementara Nur Cahyudi Ketua DPD AMKRI Jawa Timur menegaskan industry meubel dewasa ini perlu adanya trading house atau rumah dagang terintegrasi untuk mendongkrak kinerja, daya saing, dan ekspor.
Diakuinya, dalam beberapa tahun terakhir pengusaha meubel terkendala akan bahan baku meski secara umum di Indonesia dikenal sebagai penghasil kayu. Langkah tersebut kalau dilakukan akan mampu ,mendongkrak potensi industry meubel dan kerajinan secara nasional. Lanjut dia, para pengusaha meubel dan kerajinan berbahan rotan sekarang ini baru mampu menempatkan diri pada urutan 13 dunia.
Dalam tahun berikutnya Nur Cahyudi berharap banyak bagi pengusaha di daerah mampu memberikan support demi peningkatan nilai ekspor meubel yang baru menyentuh angka 1,7 miliar dolar AS pada tahun lalu. Padahal permintaan pasar furniture dunia mulai tahun 2013 sudah mulai membaiK khususnya pasar Amerika dan Asia.
Walaupun krisis global masih terjadi utamanya di kawasan Eropa akan tetapi perdagangan furniture dunia mencapai 122 miliar dolar AS. Dengan besaran nilai tersebut belum sebanding dengan kontribusi Indonesia terhadap pasar furniture dunia yang hanya berkisar 2 persen. Dipastikan dengan adanya peluang longgar tersebut pengusaha meubel didaerah diharapkan mampu meningkatkan kontribusinya.
|SiagaIndonesia
































