NGAWI — Seseorang bisa dinyatakan positif terpapar COVID-19 hanya bisa diketahui setelah menjalani swab tes dengan PCR (Polymerase Chain Reaction) kit. Tanpa tes laboratorium itu, semua yang terindikasi dengan ataupun tanpa gejala belum bisa diumumkan terkonfirmasi positif.
Proses swab tes melalui PCR kit ini juga tidak bisa dianggap cepat, karena tentu ada beberapa faktor pendukung yang harus dipenuhi seperti adanya reagen. Reagen merupakan bahan kimia yang membantu mendeteksi infeksi virus.
Kit reagen ini salah satu komponen utama dari PCR yang berfungsi memeriksa amplifikasi asam nukleat virus dengan teknologi yang dapat mengetahui ada atau tidaknya genotipe virus. Tentu jika reagan ini tidak ada, laboratorium juga tidak bisa melakukan proses analisa.
Seperti halnya 11 santri Pondok Pesantren Temboro Magetan asal Ngawi yang baru saja menjalani rapid test, kesemuanya masih harus menunggu hasil dari swab test dengan PCR kit yang kabarnya dilakukan di laboratorium RS Universitas Airlangga (Unair).
Jika merunut waktu swab tes santri Temboro asal Ngawi ini, sangat dimungkinkan menunggu lama karena reagen yang dimaksud dalam kondisi habis di RS Unair seperti pengumuman resmi No 152/UN3.9.4/TU/2020 yang ditandatangani Kepala Institute of Tropical Disesase (ITD) Unair, bahwa sejak Senin (20/04/2020) RS Unair tidak bisa melakukan pemeriksaan sampel untuk pasien Corona.
Sebagaimana diketahui, awal terjangkitnya virus corona atau wabah COVID-19 di Indonesia, hanya ada 1 lokasi laboratorium pengetesan yaitu milik Kementerian Kesehatan di Jakarta yang bisa mengeluarkan secara resmi apakah seseorang positif COVID-19 atau tidak.
Setelah beberapa waktu dan penyebaran begitu masif, akhirnya di Jawa Timur ada laboratorium khusus yang bisa melakukan swab test dengan PCR kit tersebut, yaitu di Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) Surabaya, disusul dengan Institute of Tropical Disease (ITD) atau RS Unair.
Minggu lalu, tepatnya 26 April 2020, Provinsi Jawa Timur mendapatkan bantuan 41.000 reagan PCR kit dari Pemerintah Pusat, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dengan terus meningkatnya kasus.
Dengan diterimanya bantuan ini, provinsi Jawa Timur menambah 4 laboratorium yang mampu melakukan swab test dengan PCR kit, yaitu, di RSUD Dr. Soetomo, RS Universitas Brawijaya, Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK) Surabaya, dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI Surabaya, sehingga total ada 6 lokasi.
“Dengan adanya 6 laboratorium di Jatim dan tambahan dukungan reagen PCR kit sebanyak 41 ribu yang kita terima maka, kenaikan kapasitas laboratorium kini mampu melakukan 1.102 test swab per hari dan stok reagen aman hingga jangka waktu 37 hari ke depan,” terang Gubernur Khofifah Indar Parawansa.
Perlu kita ketahui, puluhan ribu PCR kit yang diterima dan telah dibagi ke 6 laboratorium tersebut diutamakan bagi mereka beresiko tinggi seperti, para tenaga medis, para Pasien Dalam Pengawasan (PDP), dan yang belum melakukan swab test sebelumnya. (cse)
































