Indonesia dalam kebaya dan konde. Sepertinya menjadi sebuah khas dari Ibu Kita Kartini yang merupakan pahlawan nasional kita yang sangat dekat dengan kaum perempuan. Memperjuangkan hak – hak perempuan, mencoba menjadi sosok yang tangguh dan berjuang sebagai barisan perempuan di Indonesia.
Selamat Hari Kartini 2015, perjuanganmu menginspirasi seluruh dunia, bahwa wanita tak hanya sebagai pelengkap dalam sebuah kehidupan, namun menjadi bagian dari setiap gerak, setiap proses, dan setiap tempat. Wanita berhak atas derajat yang sama dengan kaum Laki – Laki.
Selamat Hari Kartini 2015, di Ngawi diperingati dengan pawai Hari Kartini, ada juga sebagian sekolah yang mengadakan bazar, fashion show, parade Kartini, dan banyak lagi. Wujud penghargaan bagi jasa – jasa Ibu Kita Kartini , pahlawan Bangsa.
Selamat Hari Kartini 2015 , selamat berjuang untuk kartini – kartini muda di era zaman serba canggih ini. Semua bisa dilakukan, semua bisa dicapai , dan semua bisa diwujudkan, Habis gelap terbitlah Terang.
Selamat Hari Kartini 2015
[accordion style=”2″ initial=”2″]
[accordion_item title=”Sejarah Kartini”]
Raden Adjeng Kartini adalah seseorang dari kalangan priyayi atau kelas bangsawan Jawa, putri Raden Mas Sosroningrat, bupati Jepara. Beliau putri R.M. Sosroningrat dari istri pertama, tetapi bukan istri utama. Kala itu poligami adalah suatu hal yang biasa. Kartini lahir dari keluarga ningrat Jawa. Ayahnya, R.M.A.A Sosroningrat, pada mulanya adalah seorang wedana di Mayong.
Ibunya bernama M.A. Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Teluwakur, Jepara. Peraturan Kolonial waktu itu mengharuskan seorang bupati beristerikan seorang bangsawan. Karena M.A. Ngasirah bukanlah bangsawan tinggi, maka ayahnya menikah lagi dengan Raden Ajeng Woerjan (Moerjam), keturunan langsung Raja Madura. Setelah perkawinan itu, maka ayah Kartini diangkat menjadi bupati di Jepara menggantikan kedudukan ayah kandung R.A. Woerjan, R.A.A. Tjitrowikromo. Kartini adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Dari kesemua saudara sekandung, Kartini adalah anak perempuan tertua. Beliau adalah keturunan keluarga yang cerdas.
Kakeknya, Pangeran Ario Tjondronegoro IV, diangkat bupati dalam usia 25 tahun. Kakak Kartini,Sosrokartono, adalah seorang yang pintar dalam bidang bahasa. Sampai usia 12 tahun, Kartini diperbolehkan bersekolah di ELS (Europese LagereSchool). Di sini antara lain Kartini belajar bahasa Belanda. Tetapi setelah usia 12 tahun,ia harus tinggal di rumah karena sudah bisa dipingit. Karena Kartini bisa berbahasa Belanda, maka di rumah ia mulai belajar sendiri dan menulis surat kepada teman-teman korespondensi yang berasal dari Belanda. Salah satunya adalah Rosa Abendanon yang banyak mendukungnya.
Dari buku-buku, koran, dan majalah Eropa, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa. Timbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi, dimana kondisi sosial saat itu perempuan pribumi berada pada status sosial yang rendah. Kartini banyak membaca surat kabar Semarang De Locomotief yang diasuh Pieter Brooshooft, ia juga menerima leestrommel (paket majalah yang diedarkan toko buku kepada langganan).
Di antaranya terdapat majalah kebudayaan dan ilmu pengetahuan yang cukup berat, juga ada majalah wanita Belanda De Hollandsche Lelie.Kartini pun kemudian beberapa kali mengirimkan tulisannya dan dimuat di DeHollandsche Lelie. Dari surat-suratnya tampak Kartini membaca apa saja dengan penuh perhatian, sambil membuat catatan-catatan. Kadang-kadang Kartini menyebut salah satu.
[/accordion_item]
[/accordion]
































