NGAWI — Kejujuran merupakan sebuah karakter yang harus dimiliki generasi bangsa ini. Tentu karena hal ini seperti sudah langka dan terlihat mahal dengan berbagai perilaku yang tidak jujur menghiasi berbagai media.
SD Lugman Al Hakim, sebagai lembaga pendidikan dasar melihat adanya kelangkaan kejujuran ini, mencoba untuk terus menanamkan karakter jujur dalam diri sejak dini salah satunya dengan agenda Market Day bertemakan Aku Jujur dalam Berdagang, Kamis (27/02/2020).
Kegiatan yang diselenggarakan di komplek sekolah Jl. Panjaitan No. 20 B Ngawi ini melibatkan siswa-siswa SD kelas 4, 5, dan 6 dengan agenda jual beli melatih bermuamalah, menumbuhkan jiwa usaha, mengajarkan kebersamaan, dan tentunya karakter jujur sejak dini.
Market Day SD Luqman Al Hakim Ngawi Tanamkan Karakter Jujur Sejak Dini. Ketua kegiatan Market Day, Nur Hasanah, menyebutkan bahwasanya kegiatan ini dilaksanakan untuk mengajarkan anak-anak jujur sejak dini, mencontoh akhlak nabi.
“Dengan mengajarkan anak jujur sejak dini, mencontoh akhlak nabi, in syaa Allah akan membentuk pembiasaan yang akan menjadi karakter anak,” terangnya.
Lebih lanjut dijelaskan oleh Nur Hasanah, Penanaman karakter jujur dan amanah sejak dini sebagai sebuah hal yang penting dan mendasar dalam menyiapkan generasi rabbani yang jujur dan amanah di masa mendatang.
Guru Kelas SD Luqman Al Hakim ini pun menjelaskan, Sekolah Dasar adalah dasar pendidikan anak ke jenjang berikutnya. Pihaknya mempersiapkan masa depan mereka 20 tahun yang akan datang.
“Di SD Luqman Al Hakim ini, sebagai sekolah berbasis tauhid, selain mengajar, guru juga berposisi sebagai juru dakwah. Setiap materi yang kita ajarkan bersumber dari al-quran dan sunnah. Kita siapkan generasi mendatang, generasi robbani yang karakternya berdasar al qur’an dan sunnah,” imbuhnya.
Pihaknya juga berharap, dengan diselenggarakannya kegiatan ini akan membiasakan anak untuk bersikap jujur, amanah, dan penyayang. Terlihat saat anak-anak melayani pembelinya dari adik kelas SD, adik-adik TK, maupun wali murid yang datang dengan penuh kesabaran dan kasih sayang.
“Sikap jujur ditunjukkan oleh para pedagang maupun pembeli di kegiatan itu. Para pedagang cilik dengan jujur menyampaikan dagangan apa adanya. Tidak ditutup-tutupi, jika masakannya baru disampaikan baru, jika tidak maka disampaikan tidak,” ujarnya menambahkan.
Senada dengan Nur Hasanah, Ketua Pengurus Daerah Pemuda Hidayatullah Ngawi, Galih Pratama Yoga menerangkan bahwa kegiatan ini merupakan salah satu contoh kegiatan yang sangat baik sebagai hal yang penting dan mendasar, meneladani sifat amanah dari Rasulullah, Muhammad SaW.
Menurutnya, dalam ajaran islam, jujur merupakan sifat yang sangat terpuji. Suri tauladan terbaik umat Islam, Muhammad Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wassalam, sebelum diangkat menjadi Nabi dan Rasul, telah menunjukan sifat terpuji itu. Jujur dan amanah. Maka di kalangan bangsa quraish waktu itu, Nabi Muhammad diberi gelar al-amin, yang artinya orang yang dapat dipercaya.
Galih mencontohkan dalam beberapa tulisan sejarah beliau, disebutkan saat usia 12 tahun Nabi SAW telah turut serta dalam perjalanan dagang pamannya, Abu Thalib. Kemudian pada saat usai remaja, disebutkan pada usia 17 tahun, Muhammad SAW telah memimpin sebuah ekspedisi perdagangan ke luar negeri.
“Shafiyyur-Rahman al-Mubarakfurry dalam buku Sirah Nabawiyah menyebutkan, dalam berdagang, nabi dikenal dengan setinggi-tingginya nilai amanah, nilai kejujuran, dan sikap menjaga kehormatan diri. Inilah karakter beliau di segenap sisi kehidupan, hingga diberi gelar al-amin,” jelasnya kepada redaksi KampoengNgawi.
Lebih lanjut iapun menerangkan, sebagai makhluk pilihan paling mulia, Nabi SAW juga menjalani fase berdagang saat usai 12 tahun hingga mendapat gelar al-amin, tentu bukan sesuatu yang instan terjadi. Karakter harus dibentuk sejak dini. Apa lagi kita sebagai umatnya, sebagai manusia biasa maka wajib hukumnya membiasakan karakter jujur dan amanah sejak dini.
Karakter jujur dan amanah saat ini mungkin telah menjadi perkara yang “mahal” dan langka. Tak jarang kita disuguhkan berita di media tentang kelakuan tak jujur dan tak amanah dari beberapa pejabat negara tingkat daerah hingga pusat, petinggi parpol maupun kalangan pengusaha yang harus mengenakan “rompi orange pesakitan” sebagai tahanan koruptor.
“Seolah tiada henti, berita kejahatan tikus berdasi itu hilir mudik mengotori halaman jagad media massa dan media sosial di negeri ini,” ujarnya.
Sungguh miris menyaksikan rentetan kasus-kasus korupsi di negeri ini. Pasalnya para pelaku korup ini bukan golongan masyarakat miskin, bukan nenek tua yang terpaksa mengambil seonggok ubi untuk bertahan hidup, atau seorang kakeh tua renta yang mengambil kayu untuk menjaga dapurnya agar tetap mengepul, namun mereka adalah para pejabat yang bergelimang harta.
“Mungkin memang mental rakus merkalah yang mendasari berbuat keji. Seolah sifat jujur dan amanah menguap tak berbekas pada diri penjahat korupsi,” pungkasnya.
Melihat karakter kejujuran yang seakan menguap dari para penjahat berdasi itu menjadi pertimbangan pentingnya penanaman karakter jujur dalam diri sejak dini. (kn/cse)
































