Momentum peringatan Hari Jadi Kabupaten Ngawi ke-668 menjadi catatan bersejarah bagi Pemerintah Kabupaten Ngawi dengan diboyongnya Pusaka Keris Kanjeng Kyai Parikesit. Prosesi sakral yang berlangsung di Pendopo Wedya Graha, Rabu (1/7/2026) malam, menjadi wujud komitmen pemerintah daerah dalam menjaga, melestarikan, sekaligus mewariskan khazanah budaya adi luhung sebagai bagian dari identitas dan perjalanan Kabupaten Ngawi.
Keris Kanjeng Kyai Parikesit dihadirkan sebagai piandel agung sekaligus melengkapi empat pusaka daerah yang telah dimiliki sebelumnya, yakni dua pusaka tombak dan dua pusaka songsong. Selanjutnya, pusaka tersebut akan disemayamkan di Gedung Pusaka Kabupaten Ngawi sebagai tetenger perjalanan sejarah di setiap periode pemerintahan. Prosesi penyerahan disaksikan Bupati Ngawi Ony Anwar Harsono bersama jajaran Forkopimda, Sekretaris Daerah Mokh. Sodiq Triwidiyanto, Ketua DPRD Ngawi Yuwono Kartiko, Kepala Kejaksaan Negeri Ngawi B. Hermanto, kepala perangkat daerah, Empu Sanggar Kris Mataram, Ki Nurjianto (Gus Poleng), serta seluruh camat se-Kabupaten Ngawi yang turut membawa tanah dan air dari wilayah masing-masing sebagai simbol persatuan masyarakat Ngawi.
Bupati Ngawi menegaskan, pemboyongan pusaka tersebut merupakan bentuk nyata komitmen pemerintah daerah dalam menjaga, melindungi, dan melestarikan warisan budaya agar tetap lestari di tengah perkembangan zaman.
“Awal dari niatan ini adalah agar khazanah budaya kita tetap terjaga. Kita tidak hanya sekadar merawat (memetri-metri) secara berkala, tetapi memastikan keberlangsungan warisan budaya ini agar terus lestari ke depan,” ujarnya.
Keris Kanjeng Kyai Parikesit ditempa secara khusus oleh empu Sanggar Kris Mataram Yogyakarta, Sukoyanto atau yang akrab disapa Gus Poeng. Pusaka ini berbentuk keris lurus dengan Dhapur Mahesa Teki, memadukan besi, baja, pamor nikel, serta unsur besi yang diambil langsung dari bumi Ngawi sebagai penanda lokalitas daerah.
“Mahesa atau kerbau merupakan representasi masyarakat agraris. Hal itu sangat selaras dengan karakter Kabupaten Ngawi sebagai salah satu lumbung pangan nasional. Dalam sejarah Nusantara, Mahesa juga menjadi gelar kehormatan bagi para pemimpin,” jelas Gus Poeng.
Lebih lanjut, Gus Poeng menerangkan bahwa nama Parikesit yang dalam bahasa Sanskerta berarti “Sang Pencari” menggambarkan semangat untuk terus mencari kebaruan dan melahirkan inovasi dalam penyelenggaraan pemerintahan. Dalam kisah pewayangan, Parikesit juga dikenal sebagai sosok yang membawa harapan baru di tengah berbagai tantangan dan ketidakpastian zaman.
“Harapannya, filosofi Kanjeng Kyai Parikesit dapat menjadi penyemangat bagi birokrasi maupun masyarakat Ngawi untuk tetap kokoh menjaga jati diri sebagai daerah agraris, terus berinovasi, serta mampu menjadi pembawa harapan dalam menghadapi tantangan zaman,” ungkapnya.
Melalui pemboyongan Pusaka Kanjeng Kyai Parikesit, Pemerintah Kabupaten Ngawi berharap nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tidak hanya menjadi bagian dari pelestarian budaya, tetapi juga menjadi pengingat bahwa pembangunan daerah akan semakin kuat apabila berakar pada identitas budaya, semangat inovasi, serta kebersamaan seluruh elemen masyarakat.
Telah Dilihat : 3































