Perubahan iklim memang sering dibicarakan pada akhir-akhir ini. Bahkan pada KTT G20 di Italia yang digelar pada 31 Oktober kemarin, Kelompok G20 telah mencapai sejumlah kesepakatan untuk mengatasi perubahan iklim.
Seperti yang diketahui, G20 yang meliputi Brasil, China,India, Jerman dan Amerika Serikat bahkan menyumbang 60% dari populasi dunia dan sekitar 80% dari emisi gas rumah kaca global. Dalam pertemuan tersebut Presiden Joko Widodo mengatkana bahwa penanganan persoalan perubahan iklim harus seiring dengan penanganan berbagai persoalan global lainnya.
Pemerintah Indonesia telah menargetkan Net Sink Carbon untuk sektor lahan dan hutan selambat-lambatnya tahun 2030 dan “Net Zero” di tahun 2060 atau bisa lebih cepat. Kawasan Net Zero salh satunya adalah Green Industrial Park di Kalimantan Utara seluas 13.200 hektar yang menggunakan energi terbarukan dan menghasilkan green product.
Sekilas Tentang Perubahan Iklim
Perubahan iklim merupakan sebuah perubahan jangka panjang dalam pola cuaca tertentu di suatu wilayah. Perubahan iklim dipengaruhi oleh pemanasan global. Pemanasan global merupakan kenaikan pada suhu bumi yang kemudian berlangsung selama satu dekade atau lebih. Jadi, perubahan iklim dan pemanasan global memiliki pengertian yang berbeda.
Sebuah perusahaan bernama Schroders telah menerbitkan sebuah artikel beberapa waktu yang lalu. Artikel tersebut menyampaikan tren pemanasan global selama 3 dekade terakhir yang mengalami kenaikan lebih dari 2 derajat celcius. Artikel itu jugaa memperingatkan tantangan tersebut akan semakin parah pada tahun-tahun ini.
Dampak Perubahan Iklim
Iklim yang terus menerus bertambah panas ini tentu akan mengakibatkan perubahan drastis dalam bidang pertanian, perikanan, dan keanekaragaman hayati, bahkan hingga perdangangan dan kesehatan. Bahkan Schroders juga mengatakan pendapatan perusahaan global juga akan terpengaruh hingga 4% sampai dengan 20% akibat perubahan iklim tersebut.
Dampak pada habitat liar bahkan tambah menyedihkan. Berkurangnya pasokan makanan karena pola curah hujan yang tidak biasa akan mengancam satwa liar dari kepunahan. Kebakaran hutan dan peningkatan intensitas air laut akan membuat habitat satwa menjadi hilang, akibatnya beberapa spesies satwa juga akan punah.
Perubahan cuaca yang ekstrem juga turut serta meningkatkan ozon permukaan tanah (O3) pada beberapa wilayah, yang juga akan menjadi ancaman bagi patokan ozon di masa depan.
Perubahan iklim yang meliputi peningkatan curah hujan, temperatur yang tidak stabil, dan cuaca buruk yang melanda suatu wilayah akan meningkatkan kemungkinan terjadi bencana alam. Di Indonesia sendiri akhir-akhir ini, beberapa daerah terendam banjir akibat intensitas hujan yang sangat tinggi.
Kesehatan manusia juga ikut terancam, sebab pola cuaca yang tidak menentu akan memicu munculnya mikroorganisme berbahaya yang bisa mencemarkan air sehingga akan menimbulkan penyakit untuk masyarakat sekitar.
Mengapa Banyak Orang Abai Soal Perubahan Iklim?
Banyak orang yang tidak memperdulikan dampak perubahan iklim. Salah satunya disebabkan efeknya yang lamban, hal itu tidak bisa dirasakan secara langsung oleh masyarakat, namun di masa depan akan berdampak.
Selain itu, banyak yang menganggap perubahan iklim bukan suatu permasalahan yang serius untuk ditanggapi. Orang-orang lebih tertarik dengan isu-isu kebencanaan lain yang terjadi saat ini.
Kita tidak bisa menyalahkan siapapun jika mengalami dampak risiko perubahan iklim. Meskipun sudah banyak yang menyuarakan, namun media-media besar nampaknya belum tertarik untuk membahas isu ini lebih jauh lagi.
Bagaimana Indonesia Bersiap Menghadapi Perubahan Iklim?
Indonesia yang memiliki iklim tropis dan juga merupakan negara kepulauan, sangat rentan sekali terkena dampak perubahan iklim. Pemerintah terus mengupayakan agar Indonesia mampu menghadapi perubahan iklim ini kedepannya.
Melalui level global, Indonesia berkomitmen melalui penyampaian dokumen Nationally Determined Contributions (NDC) Indonesia kepada UNFCCC. Pada konteks dalam negeri, komitmen Indonesia dilakukan dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Menengah (RPJMN) 2020-2024 yang memasukkan aspek perubahan iklim kedalam prioritas nasional ke 6 (PN-6).
Pemerintah pusat juga menggandeng pemerintah daerah untuk turut aktif dalam penanganan isu perubahan iklim ini dengan penandaan anggaran perubahan iklim di tingkat daerah (Regional Climate Budget Tagging/RCBT) hal tersebut dilakukan untuk sinkronisasi dokumen perencanaan Pemerintah Pusat dan Daerah dalam aksi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.
Berbagai risiko dari perubahan iklim seharusnya tidak lagi dianggap enteng atau bahkan diremehkan. Berikut hal kecil yang bisa kita lakukan untuk mengurangi perubahan iklim Hemat Energi, cabut charger yang tidak terpakai; Tidak perlu membeli kendaraan banyak-banyak (koleksi) cukup sesuai kebutuhan saja;
Kemudian tidak menggunakan kantong plastik saat berbelanja; Gunakan totebag; Menggunakan tumbler yang bisa diisi ulang air; Kurangi menggunakan botol plastik; dan Perbanyak makan sayur, karena daging merupakan salah satu sumber metana yang bisa berdampak pada pemanasan global.
___
Penulis : Nava Ayu Dwi Rosita
































