Omah Watu Membuat Kita Terpaku

Situs Omah Watu Membuat Kita Terpaku. Foto-Friliya


Yang ada dipikiran saya saat mendengar situs “Omah Watu” adalah bangunan yang keseluruhannya menggunakan batu dan tanpa semen, dan batu yang sudah dikondisikan, artinya bentuk yang mudah untuk disusun menjadi sebuah bangunan.

Ternyata dugaan saya salah saat tiba di lokasi “Omah Watu” di Dusun Bulurejo 2 Desa Hargomulyo Kecamatan Ngrambe. Memang benar bangunan tidak menggunakan semen dan lagi batu – batu yang disusun itu bentuknya masih tidak beraturan. Bukan hanya susunan batu kali besar yang digunakan sebagai bahan bangunan, tetapi juga batu kerikil untuk mengganjal bentuk batu yang tidak mudah disusun itu. Benar-benar saya tidak habis pikir, kok ada orang yang telaten menyusun bebatuan ini menjadi sebuah bangunan rumah yang hampir utuh. Belum sempat diselesaikan, karena sang arsitek meninggal dan tidak ada yang meneruskan pembangunan “Omah Watu” tersebut.

Saya sempat bertanya kepada beberapa warga sekitar tentang alasan kenapa bangunan itu tidak diteruskan. Terang mereka tidak ada yang mau meneruskan karena tingkat kerumitannya, akhirnya sebagian bangunan dibiarkan tanpa atap, sebagian lagi disempurnakan dengan atap dan semen yang selanjutnya digunakan untuk tempat tinggal salah satu warga desa Hargomulyo.

Saya pun sempat bertanya dengan penghuni rumah, apakah beliau masih keturunan sang arsitek, beliau menjawab tidak tahu karena tidak bisa memastikan. Itu artinya, bangunan “Omah Watu” ini entah sudah berapa lama berdiri tidak ada yang tau pasti. Jika menurut data dari Dinas Pariwisata Kabupaten Ngawi, batu – batu ini mulai disusun pada tahun 1977 dan membentuk sebuah bangunan setengah rumah dengan luas kurang lebih 400 m2. Sejauh penelurusan saya, nama sang arsitekpun belum bisa saya dapatkan. Namun ada dugaan kalau sang arsitek ini masih merupakan warga asli Desa Hargomulyo, kecamatan Ngrambe, Kabupaten Ngawi.



Letak “Omah Watu” ini tidak jauh dari SD Hargomuyo 4. Dari wisata kebun teh Jamus pun tidak terlalu jauh. Memang bangunan ini belum dikelola secara serius sebagai tempat wisata, tapi sudah tercatat sebagai salah satu situs sejarah di Kabupaten Ngawi yang bisa menjadi daya tarik bagi wisatawan.

Uniknya lagi saat saya kembali mengorek keterangan dari beberapa warga, mereka bilang keseluruhan bangunan tersebut disusun oleh satu orang. Mungkin karena sebagian bangunan sudah direnovasi, saya beserta rombongan bingung menentukan letak pintu masuk dari situs bangunan ini. Hanya ada satu jalan masuk, menyerupai pintu, entah itu pintu depan atau samping, kami tidak tahu karena keseluruhan bangunan sudah tidak utuh keasliannya.

Omah Watu Membuat Kita Terpaku. Bangunan ini terdiri dari beberapa sekat. Kesemuanya menggunakan susunan batu yang dalam perkiraan saya, fungsinya sebagai pembatas ruangan. Terlihat di salah satu ruangan kecil, luasnya kira-kira 3×2 m, menyerupai luas toilet, terdapat satu batu lumayan besar lonjong yang nyaman untuk duduk.

Untuk melakukan dokumentasi “Omah Watu” ini, sayangnya kami kurang leluasa dalam mengambil gambar karena dari depan bangunan ada beberapa pohon yang menghalangi kamera, dari belakang juga tidak bisa tampak utuh karena terganggu dengan keberadaan kandang sapi.

Saat memasuki “Omah Watu” ini, kami merasa kurang merasa nyaman dengan bau dari kandang sapi yang letaknya tepat di samping kiri bangunan. Di luar hal itu saya pribadi sangat setuju jika “Omah Watu” ini dikelola secara serius oleh Dinas Pariwisata Ngawi sebagai destinasi wisata. Keunikan dan keberadaan rumah batu seperti ini pastinya cukup langka di Indonesia. Kalaupun memang ada bangunan lain yang serupa, tapi saya yakin “Omah Watu” di Hargomulyo ini punya sisi unik tersendiri di mata para pengunjung nantinya.

Destinasi wisata “Omah Watu” ini bisa digunakan sebagai salah satu lokasi pemotretan, sinetron, bahkan juga camping ground. Tentunya dengan beberapa polesan yang mendukung sebagai sebuah wahana wisata akan semakin mempercantik “Omah Watu” ini dan pastinya banyak pengunjung akan betah untuk berlama – lama disini.

Kontributor : Friliya Aika
Foto : Friliya Aika
Editor : KampoengNgawi

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest