Kobaran api yang muncul bersamaan semburan lumpur di di Dusun Sidorejo, Desa Sidolaju, Widodaren mendadak hilang tanpa bekas. Padahal sehari sebelumnya petugas dibuat angkat tangan lantaran tak mampu memadamkan api meskipun berbagai cara ditempuh. ‘’Setelah subuh, api terlihat mengecil kemudian padam pukul 05.25,’’ ujar Karno, pemilik lahan yang berjaga semalaman bersama petugas kepolisian, kemarin (10/9).
Setelah gagal dipadamkan, lanjutnya, beberapa orang petugas termasuk dirinya berjaga di sekitar pusat semburan lumpur bercampur gas dan api. Mereka tidak melakukan tindakan apapun selain menjaga lokasi dan memantau perkembangan api. Karena jilatan api dikhawatirkan merusak kabel saluran udara tegangan ekstra tinggi (sutet) dan mengancam pasokan listrik Jawa Bali. ‘’Mungkin gasnya sudah habis jadi mati sendiri,’’ ungkapnya.
Meskipun api telah padam dan semburan lumpur sudah berhenti, Karno mengaku rugi besar. Pasalnya, dia sudah mengeluarkan biaya besar untuk mengebor sumur. Sedianya sumur itu untuk mengairi lahan yang baru dibelinya tersebut. Karena tidak ada saluran irigasi pengairan menuju lahannya. Sehingga jalan satu-satunya adalah membuat sumur pompa sendiri. ‘’Saya sudah habis Rp 33 juta. Kalau air tidak keluar terus bagaimana,’’ keluhnya.
Merasa sudah keluar duit banyak, Karno nekat meneruskan niatnya mengebor sumur. Dia tidak kapok dengan kejadian semburan lumpur berapi yang menghebohkan warga sekitar itu. Jika tidak diteruskan, Karno mengaku modal yang sudah dikeluarkan akan sia-sia. Dan lahan yang sudah dibelinya tidak bisa ditanami. ‘’Sekarang kan gasnya sudah habis,’’ ujarnya.
Wagi Supriyono, Kepala Desa Sidolaju membenarkan pernyataan Karno. Dia mendapat laporan api dari sumur sudah padam. Namun, dia belum meninjau langsung ke lokasi karena banyak kegiatan. Wagi menugaskan para perangkat desa untuk menindaklanjuti laporan warga. Dia juga kembali mengingatkan agar pemilik lahan tetap berhati-hati. Meskipun pemilik lahan ngotot ingin meneruskan pembuatan sumur. ‘’Nanti saya akan melakukan pendekatan. Dan berkoordinasi dengan polisi dan PLN,’’ jelasnya.
Sementara itu, potensi munculnya semburan lumpur berapi masih dimungkinkan terjadi. Meskipun saat ini api sudah padam. Karena di sekitar lokasi dimungkinkan banyak cekungan gas dangkal yang jika ditarik dengan garis lurus masih terkait satu sama lain. Sebab antara sumur api jilid I dan sumur api jilid II masih satu garis lurus. ‘’Semuanya bisa saja terjadi. Apalagi di wilayah sana tidak pernah diambil sampel seismic,’’ jelas Kepala Dinas PU Pengairan dan Pertambangan Ngawi, Hadi Suroso.
Hadi mengaku belum dapat memastikan apakah gas dangkal tersebut berpengaruh signifikan pada besarnya volume gas di bawah perut bumi wilayah persawahan Ngesong itu. Karena, selama ini pemerintah pusat tidak pernah membuka hasil kajian dan uji seismic yang dilakukan BP Migas di beberapa wilayah di Ngawi, semisal di Kecamatan Pangkur, Kecamatan Geneng, Kecamatan Paron dan Kota. ‘’Selama ini kami tidak mengetahui hasilnya meskipun di beberapa wilayah pernah di survey. Alasannya karena menjadi rahasia negera,’’ tegasnya.
Meski begitu DPU Pengairan Pertambangan dan Energi tidak tinggal diam terkait kondisi tersebut. Pihaknya dalam waktu dekat bakal melakukan sosialisasi kepada warga khususnya yang memiliki sawah yang diatasnya melintang kabel sutet. Mereka bakal diedukasi terkait bahaya membuat sumur dengan kedalaman tertentu. ‘’Selain memunculkan api, gas bisa membuat keracunan kalau posisinya masih di dalam sumur,’’ jelasnya.
Kapolres Ngawi AKBP Valentino Alfa Tatareda mengatakan meski api kini telah padam, pihaknya masih melakukan pemantauan dan isolasi. Petugas kepolisian tetap disiagakan di lokasi. Sebab, dimungkinkan di sekitar sumur masih ada gas meskipun volumenya kecil. Larangan untuk tidak merokok dan menyalakan korek api di sekitar lokasi juga masih diberlakukan. ‘’Kami tempatkan angota di bekas titik semburan selama tujuh hari ke depan untuk memantau kondisinya,’’ ungkapnya.
|RadarNgawi
































