Pertarungan seru bakal tersaji kala Prancis bersua Jerman, pada babak perempatfinal Piala Dunia 2014, di Estádio do Maracanã, Rio de Janeiro, Jumat (4/7) malam ini.
Bukan semata karena ini pertemuan dua negara dengan kualitas sepak bola mumpuni, melainkan juga faktor karakter permainan yang mereka perlihatkan dalam empat partai sebelumnya.
Ciri menyerang, agresif serta tak kenal lelah dalam percobaan menjebol jala lawan, memberi gambaran pertandingan nanti tak boleh ditinggalkan sedetik pun. Corak permainan cepat tetap bakal dibawa. Setidaknya, itulah janji dua pelatih, baik Didier Deschamps (Prancis) maupun Joachim Loew (Jerman).
“Tak ada penurunan permainan, dan kami akan tetap seperti biasanya. Karena itulah yang membuat kami bisa bermain dengan nyaman,” tutur Deschamps, di France Football, kemarin.
Janji bermain cepat kedua kubu tak datang begitu saja. Modal utama mereka adalah kondisi fisik yang terus terjaga. Satu yang menjadi pusat perhatian adalah energi anak muda yang bakal terlihat dominan, sekaligus membuat pertarungan bisa terus berjalan dinamis.
Maklum, dua tim raksasa Eropa ini mengikutsertakan seluruh pemain muda terbaik. Mereka yang ada di bawah usia 25 tahun, ternyata mampu memberi efek positif bagi tim. Barisan bintang-bintang muda ini semakin menonjol, karena mendapatkan keseimbangan dari para senior.
Kubu Prancis misalnya, tak pernah ragu untuk membawa dan memberi kesempatan bermain pada Antoine Griezmann (23), Moussa Sissoko (24), Morgan Schneiderlin (24), Rémy Cabella (24), duo bek tengah Raphaël Varane (21) dan Mamadou Sakho (24), bek sayap asal FC Porto, Eliaquim Mangala (23) dan gelandang serba bisa alias deep flying midfielder, Paul Pogba (21).
Dua nama yang sedang mendapat tempat di hati penggila bola adalah Antoine Griezmann dan Paul Pogba. Nama terakhir mendapat prioritas utama, karena posisinya yang mampu menjadi katalisator sekaligus kreator di lini tengah.
Deschamps melukiskan sebagai gelandang tengah yang punya kemampuan lengkap. Ini tampak ketika Prancis mengalahkan Nigeria 2-0 di Brasilia dalam laga yang boleh dibilang tidak terlalu berjalan mulus bagi kedua tim. “Paul menunjukkan penampilan terbaiknya. Para pemain besar tampil di sejumlah pertandingan besar. Bahunya kuat, dan jangan lupa ia masih berusia 21 tahun,” kata sang mentor.
Pesaing seimbang Pogba, yang dipastikan bakal bentrok sepanjang pertandingan, tak lain adalah gelandang atraktif asal klub Bayern Muenchen, Toni Kroos. Pemain berusia 24 tahun ini sukses meneruskan tipikal kinerja para pendahulunya. Pada empat pertandingan di Brasil 2014, ia mempertontonkan kombinasi faktor pengalaman dan visi bermain yahud.
Ia mampu menjadi pelayan yang baik, dengan bukti level akurasi umpan yang mencapai angka 91,4 persen dan kesalahan yang minim, hanya 0,8 per gim. Di sisi lain, ia juga sanggup bekerja optimal saat membantu pertahanan, yakni rata-rata 0,5 memotong bola lawan, dan merebut bola dengan tekel di angka 2,3 per gim. Keterlibatan di permainan juga ditunjukkan dengan catatan 98,5 umpan per gim.
“Saya ingin memberikan yang terbaik, dan tentu saja berharap bisa bermain lebih cepat lagi. Prancis memiliki tipikal yang berubah-ubah, dan karenanya kami wajib mewaspadai setiap pergerakan. Apalagi kemungkinan nantinya ada cooling break, dan itu bisa menjadi fase yang menentukan. Saya tak ingin gegabah, tapi menyerang adalah tipikal terbaik bagi Jerman,” ancam Kroos. Pemain muda matang seperti Kroos tidak hanya sebiji di kubu Jerman.
Pelatih Joachim Loew masih memiliki sederet pemain muda lain, yang menjadi bukti sistem regenerasi di kubu Der Panzer berjalan baik.
Mereka di antaranya Matthias Ginter (20), Erik Durm (22), Shkodran Mustafi (22), André Schürrle (23), Thomas Müller (24), Julian Draxler (20), Mario Götze (22) dan Christoph Kramer (23). Namun Kroos dipastikan semakin berbahaya, karena deretan sekondan yang kemungkinan menemaninya, punya segudang pengalaman. Sebut saja Sami Khedira, Mesut Ozil dan Bastian Schweinsteiger.
“Saya pikir Kroos terus berkembang, dan dia sudah tahu apa yang harus dikerjakan di lapangan tengah,” tutur Loew.
Sementara Deschamps berharap, lini tengahnya mampu menekan dan tak memberi ruang kreasi pada sederet kreator lawan. Karena itulah, menumpuk pemain di area dapur serangan menjadi pilihan bijak baginya.
“Saya tak hanya punya Pogba,tapi juga Valbuena atau Debuchy, yang mampu memperkuat area sentral lapangan. Partai ini sangat mengandalkan teknik dan jalan berpikir. Kuncinya, kami harus secepatnya mendapatkan jalan keluar,” tegas mantan arsitek Juventus, AS Monaco dan Marseille ini.
| TribunNews































