Petani di wilayah Ngawi kini mulai kelimpungan menghadapi musim tanam. Pemicunya krisis solar mulai melanda kota keripik selama dua hari terakhir. Sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) kehabisan stok solar bersubsidi hingga membuat para petani puyeng. Ditambah belum ada kejelasan dari Pertamina kapan stok solar akan dikirim ke SPBU yang kehabisan stok.
Pantauan Jawa Pos Radar Ngawi, enam SPBU di wilayah Ngawi Kota memasang papan solar habis dengan tulisan bercat merah menyala. Mulai dari SPBU 54.63210 Jalan Ir Soekarno Ringroad Ngawi Kota yang kehabisan stok solar sejak pukul 02.00 dini hari kemarin. Disusul SPBU 54.632.04 Jalan A Yani, SPBU 54.632.03 Jalan PB Sudirman, SPBU 54.632.06 Desa Watualang dan SPBU 54.632.01 Desa Karangasri. ‘’Saya sudah keliling empat SPBU semuanya habis. Apes,’’ keluh Paryono salah seorang petani asal Desa Kedungputri, Paron, kemarin (5/8).
Demi mendapatkan solar untuk mesin diesel pompa air, Paryono sengaja berangkat pagi buta. Tujuan utama yakni SPBU Jambangan yang lokasinya paling dekat dengan tempat tinggalnya. Namun dia sudah tidak kebagian dan akhirnya nekat mencari ke wilayah Ngawi Kota. Tetapi tiga SPBU yang disinggahinya juga kehabisan stok. ‘’Katanya solar se-Ngawi habis. Padahal tanaman padi saya baru berumur dua minggu dan butuh air,’’ ungkapnya.
Kesulitan mendapatkan solar membuat Paryono was-was tanaman padinya bakal mati. Karena itu diapun terus berupaya mendapatkan solar. Karena di wilayah Ngawi solar sulit didapat, Paryono memilih eksodus ke wilayah Mantingan atau Sragen untuk mendapatkan solar. Meskipun jumlahnya dibatasi hanya 20 liter. Sementara jarak tempuh ke lokasi tersebut mencapai 45 kilometer. ‘’Ya lumayan dapat 20 liter bisa untuk mengairi sawah dua kali,’’ tambahnya.
Sukaryanto pengawas SPBU 54.632.10 Ringroad Ngawi mengatakan jika stok solar sudah ludes sejak pukul 02.00 dini hari kemarin. Namun hingga pukul 17.00, belum ada kiriman lagi dari Depo Pertamina. Akibatnya, banyak petani dan kendaraan truk diesel kecele. Sementara sejumlah kendaraan pribadi memilih membeli solar kemasan 10 liter. ‘’Karena kepepet ada beberapa mobil yang beli kemasan,’’ ungkapnya.
Sementara antrean panjang pembeli solar terlihat di sejumlah SPBU. Pembeli yang sebagian besar adalah petani itu semuanya membawa jeriken. Mereka rela antre berjam-jam untuk mendapatkan solar. Seperti yang terlihat di SPBU 5463217 Tempuran, Paron. Antrean mengular hingga tepi jalan raya Ngawi-Maospati. ‘’Sudah nunggu dua jam, masih belum dapat giliran,’’ ungkap Marsahit petani asal Dawu, Paron.
|radarmadiun
































