Meledaknya angka penderita demam berdarah dengue (DBD) di Ngawi disikapi serius pemkab setempat. Terlebih di bulan ini sudah ada satu penderita yang meninggal dunia dari jumlah total 22 kasus. Januari Puncak Ledakan Wabah DBD, “Angkanya memang terus meningkat dan ini menjadi perhatian khusus,” kata Jaswadi, Kasi Penanggulangan Penyakit (P2) Dinas Kesehatan (Dinkes) Ngawi, kemarin (23/1), seperti dilansir RadarMadiun.
Dia menambahkan ada delapan kecamatan yang sejumlah warganya terdapat penderita DBD. Di antaranya Karangjati, Bringin, Padas, Gerih, Kecamatan Kota, Mantingan, Sine dan Pitu. Kedelapan kecamatan itu juga masuk wilayah endemis. Jaswadi menjelaskan peningkatan kasus DBD dipicu berbagai faktor. Di antaranya minimnya gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), hingga adanya mutasi gen pada jenis nyamuk pembawa virus dengue. Beberapa tahun lalu, virus dengue hanya disebarkan nyamuk jenis aedes aegypti dengan ciri fisik lebih besar dengan bintik hitam dan putih pada bagian perut. Kemudian, nyamuk jenis ini hanya berdomisili atau tinggal di dalam ruangan.’’Temuan ini hasil survei dari tim UI yang melakukan penelitian epidemiologi terkait sebaran DBD,’’ imbuhnya.
Dengan kondisi itu, lanjutnya, nyamuk hanya mampu bertahan tidak jauh dari habitatnya itu. Nyamuk jenis itu tidak bisa terbang jauh. Berbeda dengan mutasi gen hasil temuan tim peneliti UI yang dilakukan pada 2010 lalu. Nyamuk yang mengalami mutasi gen itu diberi nama latin aedes albopictus yang memiliki ciri fisik lebih kecil sehingga memiliki kemampuan terbang lebih jauh. Kemudian jenis nyamuk ini juga bisa hidup lebih lama, yakni mencapai empat bulan. ‘’Saat belum terjadi mutasi gen, sekali makan dia banyak jadi lima hari baru menggigit. Tapi sekarang sudah berubah bentuk jadi kecil, jadi intensitas makannya lebih sering bisa dua hari sekali menggigit,’’ ujarnya.
Kondisi itu diperparah dengan minimnya gerakan PSN yang menambah banyaknya jentik nyamuk yang bersarang atau bertelur di genangan air bersih. Sehingga perkembangbiakan telur atau jentik yang mencapai 200 hingga 400 butir untuk sekali bertelur itu ke nyamuk dewasa semakin tinggi. ‘’Ledakan kasusnya itu sangat tinggi di bulan September, Oktober, Desember dan November 2014. Termasuk Januari dan Februari 2015 ini diperkirakan juga masih masa ledakan kasus,’’ tuturnya.
Jaswadi mengatakan pihaknya melakukan pengasapan atau fogging di berbagai titik. Termasuk pagi kemarin petugas melaksanakan fogging di empat titik lokasi ditemukannya virus dengue yakni di Rt 5,6,7 dan 8 Rw 2 Kelurahan Ketanggi, Kecamatan/Kabupaten Ngawi.
Sementara itu, Hari Setyo Kepala Lingkungan Ketanggi mengatakan di empat RT tersebut sudah ditemukan lima penderita DBD. Semuanya anak-anak dan sudah menjalani perawatan di rumah sakit. Awalnya mereka mengalam demam tinggi, mual, muntah dan pusing. Para penderita juga mengalami lemas. ‘’Saat diperiksakan ternyata positif DBD jadi langsung opname,’’ jelasnya.
































