Teater Magnit Mengenang Chairil Anwar 1922-1949.Foto-Wafin Nuha
Hari Puisi Nasional menjadi waktu yang pas dan tepat bagi para insan seni untuk mengadakan sebuah acara gelaran seni khususnya karya sastra puisi. Seperti halnya Teater Magnit Ngawi yang menggelar sebuah pementasan yang bertempat di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Ngawi, Jumat (28/04/2017).
Mengenang Chairil Anwar 1922-1949 merupakan tajuk acara yang digelar oleh Teater Magnit kali ini. Pementasan yang digelar setiap tanggal 28 April ini dipersembahkan untuk mengenang sastrawan besar Indonesia Chairil Anwar atas segala dedikasinya yang telah menorehkan bait-bait puisinya dalam rangkaian kalimat-kalimat yang khas sehingga diberi julukan sebagai pelopor angkatan 45 dalam periodesasi sastra Indonesia.
Kalau sampai waktuku,
ku mau seorang pun kan merayu,
tidak juga kau…
tak perlu sedu sedan itu
aku ini binatang jalang dari kumpulan terbuang
aku tetap meradang…menerjang
Itu sekelumit rangkaian kata khas dari Chairil Anwar yang mampu memberikan ruh bagi sastra Indonesia. Pementasan yang diadakan kali ini bertujuan untuk memupuk jiwa cinta dan melestarikan budaya Indonesia salah satunya bidang kesusastraan.
Bertempat di kelas XI MIA 6 MAN 1 Ngawi tak bisa lepas dari ide-ide sastrawan asli Ngawi Kusprihyanto Namma selaku penegak dan pendiri Teater Magnit yang menampilkan suguhan yang dikemas dalam teatrikal puisi, drama, musikalisasi puisi, dan monolog bersumber dari karya Chairil Anwar.
Sedikitnya sekitar 100 orang hadir dalam pementasan Teater Magnit Mengenang Chairil Anwar 1922-1949 memenuhi ruang kelas dan meluber hingga ke luar ruangan. (Firly Rizatna/Kn)
































