Netizen

Ngawi, Antara Potensi dan Kesejahteraan Ekonomi

oleh Ahmad Akfiyan

Kualitas masyarakat sebagai kumpulan dari individu-individu tercermin dari perilaku dan karakteristik individu mulai dari bagaimna individu itu mengenyam pendidikan, tingkatan strata sosial, kesehatan fisik dan rohaninya, serta kecukupan akan ekonominya.

Meskipun dari mengenali sebagian individu yang berada dalam masyarakat tidak dapat disamaratakan begitu saja, namun masyarakat adalah kumpulan dari individu-individu, yang mana kualitasnya akan membaur dalam masyarakat dan menjadi tindakan massa.

Persoalan tentang bagaimana meningkatkan kualitas masyarakat sangat erat kaitannya dengan faktor perekonomian. Terlebih lagi dengan perkara kesejahteraan tiap individunya. Baik kebutuhan yang bersifat premier maupun sekunder.

Masalah yang meliputi kualitas pendidikan, kesehatan, sosial dan lainnya akan ikut terangkat ketika faktor perekonomian terkondisikan, dalam arti kesejahteraan tiap-tiap individu yang menjadi fondasi masyarakat terjamin.

Maka ketika kesejahteraan ekonomi dari tiap individu tercapai, faktor-faktor lainnya akan otomatis terangkat. Sebab untuk memikirkan bagaimana seseorang nanti akan menempuh pendidikan, membayar ansuransi kesehatan, memikirkan masalah sosial budaya untuk kemajuan masyarakatanya tidak akan berlaku apabila perut masih menanggung lapar. Pertama- pertama perut haruslah kenyang baru permasalahan lain akan terselesaikan.

Kabupaten Ngawi memiliki potensi untuk mensejahterakan ekonomi masyarakatnya, hanya saja pengelolaan dari pemerintah kurang masksimal. Ambil contoh semisal di desa Sumberbening yang memiliki Bendungan Sangiran.

Bendungan yang dibangun pada Tahun 2000 dengan kapasitas tampungan sebesar 10,60 juta m3 dan difungsikan sebagai irigsi seluas 1.455 ha. Tentu saja sebagai pengirigasian lahan persawahan masyarakat bendungan ini sangat bermanfaat apalagi ketiga musim kemarau. Namun pemanfaatan untuk destinasi wisata lokal masih jauh dari pengelolaan.

Baca Juga :   Seru dan Meriahnya Orek-Orek Art & Culture Festival 2018

Fasilitas primer seperti toilet masih belum ada, juga kantor pengelolaan wisata, tempat peribadatan, loket masuk, dan masih banyak lainya. Memang banyak wisatawan yang berkunjung untuk melampiaskan hobi memancing maupun muda-mudi yang datang kesana untuk selfi mencari spot foto dengan keindahan panorama.

Hal ini apabila diamati dengan seksama telah memicu kegiatan perekonomian masyarakat. Adanya warung-warung kecil di kawasan bendungan maupun tempat jual-beli umpan pancing dan persewaan perahu oleh masyarakat sekitar.

Fenomena semacam ini yang harusnya menjadi sorotan pemerintah untuk pengembangan destinasi wisata. Masyarakat sangat peka dengan potensi-potensi yang dapat menunjang ekonomi guna mencukupi kebutuhan hidup, selanjutnya tinggal pemerintah yang memiliki power dan wewenang untuk kembali terlibat dalam urusan kesejahteraan.

Membangun fasilitas penunjang tentu akan sangat membantu mengkampanyekan Bendungan sangiran menjadi destinasi wisata baru yang menarik minat pengunjung. Apalagi di era digital yang sangat mudah untuk memviralkan segala hal sebagai tujuan promosi.

Selain dari pengelolaan kawasan bendungan sangiran, pemberdayaan masyarakat juga perlu dilakukan. Kegiatan-kegiatan yang dapat menunjang taraf hidup masyarakat harus gencar disosialisasikan dan di praktikan. Pemanfaatan bendungan sebagai budidaya ikan bagi masyarakat akan sangat menjajikan ketika pemerintah mau mengelola masyarakat dan pasar bagi kegiatan ini.

Sebagai contoh masyarakat di bagian daerah Kabupaten Tulungagung yang mengalih fungsikan lahan sawahnya sebagai tempat budidaya ikan. Bahkan kawasan tersebut telah berhasil menjadi Sentra Budidaya Perikanan. Bendungan sangiran tidak memerlukan alih fungsi apapun untuk mewujudkan hal semacam ini. Kegiatan dan pengontrolan yang dilakukan secara terus-menerus akan memunculkan ke khasan daerah yang menarik minat.

Baca Juga :   Pemda Ngawi Ajak Konsultan Bahas Pengembangan Wisata Cekok Mondol

Ditambah lagi dengan pemberdayaan masyarakat serta potensi daerah akan membuka lapangan kerja, terutama bagi pemuda-pemuda desa di daerahnya sendiri. Tak perlu lagi pemuda Ngawi risau dengan pekerjaan dan bekerja diluar kota ketika di daerahnya sendiri telah menjanjikan potensi bagi tercukupinya kebutuhan ekonomi sehari-hari bahkan lebih.

Hal ini berlaku secara umum, yang artinya segala daerah khususnya di daerah ngawi harus mengerti potensinya. Dalam memaksimalkan potensi, kembali lagi keurusan pemerintah sebagai lembaga yang dibentuk untuk mensejahterakan raknyatnya. Bukan berarti rakyat tidak bisa mandiri, namun tanggung jawab tetaplah menjadi tanggung jawab yang mesti direalisasikan demi tujuan kesejahteraan.

Berikutnya, kesejahteraan ekonomi akan berefek pada kualitas masyarakat. Masalah yang menjadi problema pemerintah akan ikut terbantu seiring dengan pertumbuhan ekonomi masyarakatnya. Kurangnya kesadaran masyarakat selama ini atas kebijakan pemerintah yang diterapkan, tidak lain karena salah satu penyebannya adalah kebutuhan ekonomi.

Memang dari segi pendidikan masyarakat yang kurang berpendidikan bisa dijadikan alasan, namun bagaimana masyarakat mau memikirkan perkara pendidikan ketika masalah yang bersifat materil masih belum teratasi. Lagi-lagi masalah ekonomi menjadi masalah sentral yang nyata dan begitu penting untuk segera diselesaikan.
__
Penulis : Jauharuddin Ahmad Akfiyan, pemuda asal Ngawi yang saat ini sedang menimba ilmu di Universitas Muhammadiyah Ponorogo dan aktif di Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Ponorogo Komisariat Fitrah. #MerdekaAdalahBergerak

Tags
Show More

KampoengNgawi

Media bebas yang menampilkan informasi seputar Ngawi, kabar ngawi, kabar desa, pemerintahan, pendidikan, budaya, dan lainnya. Email : redaksi@kampoengngawi.com

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

16 + 13 =

Baca Juga
Close
Back to top button
Close