Ucapan Selamat Hari Guru. Image-Google
Setiap tanggal 25 November, bangsa Indonesia memperingati puncak dari peringatan Hari Guru Nasional yang juga bertepatan dengan hari lahirnya organisasi guru yakni Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI).
Sebenarnya sebelum Indonesia Merdeka atau zaman penjajahan sudah ada organisasi yang didirikan yakni Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) Pada tahun 1912. Namun setelah dua dekade PGHB berganti menjadi PGI (Persatuan Guru Indonesia) untuk bisa lepas dari bayang – bayang penjajah Belanda.
Hari ini,25 November 2016 merupakan peringatan Hari Guru Nasional yang juga Hari PGRI. Redaksi KampoengNgawi secara khusus mewawancari beberapa tenaga pengajar dan atau guru yang berasal dari Ngawi yang berkiprah di daerah lain maupun yang saat ini berkontribusi di Ngawi. Berikut beberapa komentar mereka:
[accordion style=”2″ initial=”1″]
[accordion_item title=”Kebanggaan Bagi Pengajar – Setya Astuti (Mengajar di Jogja)”]
Kalau aku suka bilang begini , penghasilan tiap awal bulan atau sejenisnya itu adalah nomor sekian. Bagi seorang pengajar itu cuma bonus. Lalu apa yang dicari seorang pengajar?
“Alhamdulillah… Finally paham sama materi ini…”
“Makasii ya mbak, aku ketrima SMA (favorit)”.
“Makasii bantuannya mbak, aku ketrima UGM”.
Bahkan ada yg bilang… “Makasii mbk ya, sudah mau nolongin anak saya”.
Melihat senyum dan syukur mereka, priceless. Itu kebanggaan tersendiri bagi seorang pengajar.
[/accordion_item]
[accordion_item title=”Miris dan Membanggakan – Evy Kartika (Mengajar di Malang)”]
Alhamdulillah, hari ini ditempatku gak ada perayaan apa apa, karena kebetulan barengan sama PAS. Cuman tadi pas ngawas, di sekolah sebelah terdengar nyanyi hymne guru, gak tau kenapa rasane (rasanya) treces – treces dan mewek deh.
Kelingan (Ingat) ibukku…perjuangannya jadi guru, rela melakukan apa saja demi muridnya berhasil. Ngasih (memberi) jam tambahan tidak berharap apapun. Saat ngajarpun, beliau juga memperhatikan fisik murid muridnya, kalau baca terlalu dekat diingatkan, kalo jalan bungkuk diingatkan, pokoknya ketat banget dan itu jarang sekali dimiliki guru sekarang.
Jaman sekarang miris sekaligus bangga. Miris karena dengan adanya sertifikasi banyak guru yang hanya berlomba – lomba mengejar materi semata. Mereka hanya tahu transfer ilmu tapi lupa transfer nilai ke anak didiknya. Kebanyakan mereka berubah nama jadi jarkoni iso ujar gak iso nglakoni. Tapi banyak juga yang membanggakan, buktinya ada sekolah yang menerima seluruh murid dari berbagai kalangan mulai kaya, miskin, pinter, idiot, dll. Kata kepala sekolahnya, kalo kita memintarkan anak yang sudah pintar itu biasa, tapi kalo kita membuat lebih baik anak yang belum baik baru itu luar biasa, dan disitulah ladang amal kita dan kalian tahu, mereka hanya dibayar 500 ribu perbulan, tapi para muridnya yang kelas 2 yang awalnya tidak pernah hafalan quran sekarang sudah hafal 3 juz.
[/accordion_item]
[accordion_item title=”Perjuangan Luar Biasa dalam Mendidik – Ruruh Satri (Mengajar di Ngawi)”]
Kalau kita lihat ada sekolah unggulan yang murid – muridnya bisa jadi juara, itu adalah hal yang biasa karena memang input muridnya sudah oke. Coba kalau ada sekolah yang menerima murid dari tingkat kecerdasan yang mayoritas standar atau bahkan di bawah standar, dari latar belakang keluarga dan tingkat ekonomi mayoritas menengah ke bawah dan ternyata mampu berprestasi. Hal itu tentunya amazing banget ?. Karena butuh proses dan perjuangan yang luar biasa untuk bisa membuat dari input yang biasa menjadi output yang berkualitas.
[/accordion_item]
[accordion_item title=”Guru harus terus berdedikasi – Fajar Buana (Mengajar di Bojonegoro)”]
- Guru di era sekarang adalah guru yang dituntut untuk semakin sibuk dengan administrasi (khususnya guru yang berstatus PNS).
- Guru di era sekarang adalah guru yang seakan hilang pegangan, banyak perubahan konten kurikulum dan lain – lain yang begitu mudah dan cepat.
- Guru di era sekarang, mau tidak mau harus mampu semaksimal mungkin menguasai teknologi informasi komunikasi digital.
- Guru di era sekarang banyak yang bukan guru karena sulit dan jarang bisa konsisten mampu memberi keteladanan
- Guru di era sekarang adalah guru yang mau tidak mau banyak dipaksa terlibat dalam manipulasi, tanda tangan fiktif dan lain – lain.
- Tetapi guru tetaplah guru yang selalu berusaha menjadi pelita bagi peserta didiknya, berdedikasi untuk kemanfaatan ilmu bagi peserta didiknya, ikhlas beramal dengan segala keterbatasannya.
Selamat Hari Guru.
[/accordion_item]
[accordion_item title=”Penempatan Guru Harus Sesuai Bidang – Sri Hartini (Mengajar di Ngawi)”]
Penempatan guru yang tidak sesuai dengan background atau bidang pendidikannya, hal itu sebenarnya merupakan efek dari program sertifikasi, karena kurang jam maka guru – guru mencari tempat agar bisa mencapai kuota jam yang diberlakukan. Dengan demikian akhirnya menjadi tidak profesional. Yang dari tingkat SMP turun ke SD pun sambat karena memang tidak biasa menghadapi siswa usia tersebut.
Beberapa guru hanya melihat tunjangan, sehingga yang diprioritaskan hal – hal yang berkenaan dengan itu, misal, bingung mencari murid karena rasio 1 guru banding 20 siswa, tapi secara personal tidak mau mengembangkan diri.
Tentunya semoga guru – guru akan menjadi lebih baik dengan mengasah diri, mengembangkan diri, demi pendidikan Indonesia. Selamat hari guru.
[/accordion_item]
[/accordion]
Itulah beberapa perasaan dan komentar dari guru dan tenaga pengajar yang menyampaikan kepada redaksi. Guru / tenaga pengajar adalah mulia, semoga setiap guru selalu menjadi pribadi yang terus bisa selalu digugu lan ditiru.
Selamat Hari Guru Nasional 2016
































