Presiden terpilih Joko Widodo (Jokowi) bakal dihadapkan pada pekerjaan rumah baru selepas lengsernya presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yakni melanjutkan kembali pembangunan kekuatan dan modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista), yang selama 10 tahun terakhir terus diperbaharui konsep dan strategi pertahanannya.
Bila di masa pemerintahan SBY, TNI disegarkan dengan alutsista baru menggantikan yang sudah uzur, sekarang ini saatnya mempersiapkan alutsista dengan teknologi mutakhir.
Dengan demikian, 5-10 tahun ke depan, TNI tidak lagi berada dalam kondisi kekuatan tempur di bawah minimum. Artinya, target menuju kekuatan pokok minimum yang dirancang pada 2024 bisa terwujud, dan TNI akan kembali sebagai kekuatan bersenjata yang disegani khususnya di kawasan ASEAN.
Karena esensinya, di usinya yang ke-69, pengawal republik harus terus digagahperkasakan untuk mempertahankan warisan yang telah diperjuangkan oleh para pahlawan bangsa. Dan alutsista TNI adalah keniscayaan yang wajib disegarkan, supaya mekar, kekar dan gahar. Dengan demikian, TNI mampu membentengi kedaultan dan harga diri bangsa.
Akan tetapi bila melihat perkembangan pesatnya alustisista negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan China, alutsista TNI memang masih jauh dari ideal, baik usia maupun dari segi teknologi. Saat ini alutsista TNI hanya mampu bersaing dengan negara-negara di Asia Tenggara.
Boleh dikatakan 10 tahun terakhir SBY berhasil menggeser posisi Malaysia dan Thailand dalam pemenuhan kebutuan alutsista, baik kuantitas maupun kualitas. Sedangkan Singapura masih di atas Indonesia.
Seperti dikatakan Connie Rahakundini Bakrie dalam bukunya “Pertahanan Negara dan Postur TNI Ideal” bahwa peremajaan alutsista TNI terbilang lambat dibandingkan Singapura dan bahkan secara kuantitas kalah. Bahkan kini Malaysia bersiap-siap kembali menyalip Indonesa dengan membeli sejumlah peralatan tempur baru.
Indonesia sendiri saat ini masih dalam tahap pemenuhan kebutuhan, belum pada tahap alih teknologi. Hal itu terlihat pada alutsista tiga matra yang dipertontonkan pada acara puncak kegiatan upacara parade dan defille, 7 Oktober 2014.
TNI AD, dengan 192 alutsista yang dalam kondisi paling siap, di antaranya 22 Tank Leopard, 22 Tank Marder, 13 Panser Tarantula, 13 Tank Scorpio, 6 Meriam 155 MM Caesar dan 43 Pesawat. TNI AL memiliki 195 alutsista, di antaranya 35 KRI, 10 LVT-7, 6 BVP-2, 26 BMP 3F1, 4 RM70 GRAD dan 23 pesawat.
TNI AU, memiilki 139 pesawat, diantaranya 12 Sukhoi, SU27/30 Flanker, 3 F5 Tiger, 10 F-16 Fightting Falcon, 12 Hawk 109/209, 3 EMB 314 Super Tucano, 1 C130 Tanker dan 3 Boing 737.
Bangsa ini boleh berbangga, apa yang pertontonkan ke publik Indonesia dari ketiga matra ini, sebagian besar alutsista adalah terbaru, seperti Tank Leopard yang dibeli dari Belanda, Sukhoi yang didatangkan dari Rusia.
|OkeZone
































