NGAWI, Jawa Pos Radar Madiun – Ironi. Ngawi selama ini berjuluk daerah lumbung padi nasional. Memasok beras secara nasional dengan jumlah yang signifikan.
Namun di saat yang sama, banyak warga Ngawi yang harus berdesakan untuk mendapatkan beras murah.
Potret ironi itu dapat dijumpai saat operasi beras murah di Ngawi Street Food (NSF), Jumat (16/2) lalu.
Demi mendapatkan beras dengan selisih Rp 7.000 lebih murah, Fifi Afifah menahan rasa sakit badannya karena terjepit warga lain.
Perempuan itu satu dari ratusan pemburu beras murah.
Mereka berdesak-desakan di pasar murah yang digelar dinas perdagangan, perindustrian, dan tenaga kerja (DPPTK) itu.
Kegiatan itu merespons mahalnya harga bahan pokok tersebut dalam sebulan terakhir.
‘’Kalau di luar, harganya Rp 16 ribu sampai Rp 17 ribu per kilogram,’’ kata Fifi.
Baca Juga: Prabowo Temui SBY dan AHY di Pacitan, Sebut Ucapkan Terima Kasih ke Senior di Paviliun 5A
DPPTK menyediakan dua ton beras stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP) kemasan lima kilogram.
Harganya Rp 51 ribu. Stok tersebut ludes kurang dari 30 menit. Perjuangan Fifi tidak sia-sia setelah berhasil membawa pulang beras subsidi tersebut.
‘’Harga per satu kilogramnya Rp 10.200. Lumayan untuk kebutuhan sehari-hari,’’ ujarnya.
Kepala DPPTK Ngawi Kusumawati Nilam mengatakan, petugas kewalahan melayani pengunjung pasar murah yang tidak tertib mengantre.
Bahkan ada anak yang terjepit karena ikut antrean ibunya.
































