Netizen

Ngawisme

oleh Ahmad Akfiyan

Apalah arti sebuah nama bila tidak dapat menyingkap hakikat di dalamnya?
Apalah arti sebuah nama bila tidak mampu menyebut keseluruhan eksistensi yang dikandungnya?

Itulah kalimat yang mungkin akan terucap dari mulut seorang filosof ketika disuguhi pertanyaan tentang arti dan makna sebuah nama.

Mengutip perkataan Charles Saners Pierce (1839-1914), seorang tokoh semiotika terkemuka menyatakan bahwa “dunia manusia adalah dunia simbol atau dunia nama”. Dengan simbol atau nama, manusia dapat berkomunikasi dan mengembangkan peradaban.

Tanpa adanya sebuah simbol atau nama tidak dapat dibayangkan bagaimana manusia dapat berkomunikasi dan mengembangkan peradaban hingga mencapai kemajuan-kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Akal manusia tidak dapat menjangkau hakikat dari apa yang sebenarnya ada di balik eksistensi sebuah sebutan, simbol, atau nama yang dilekatkan kepada sesuatu yang diyakini keberadaannya. Namun dari sebuah nama haruslah menggambarkan keseluruhan atau totalitas dari eksistensi yang dinamai, sehingga penyebutan berarti memanggil keberadaan yang diyakini ada di alam semesta raya ini.

Maka sebuah nama tentu saja musti menggambarkan identitas dan jati diri, seluruh unsur sejarah, kultur, peradaban hingga emosi beradu padu dalam satu penyebutan yaitu nama.

Berbicara mengenai nama, Ngawi adalah sebuah nama kabupaten yang terletak di Provinsi Jawa Timur. Berdasarkan asal katanya, Ngawi diambil dari bahasa Sansekerta “Awi” yang berarti bambu, sesuai dengan lokasi geografisnya yang dekat dengan sungai Bengawan Solo dan Bengawan Madiun yang banyak ditumbuhi oleh tanaman Bambu.

Kata “Awi” mendapat tambahan huruf sengau “Ng” sebagai nama panggilan sehingga menjadi “Ngawi”. Awi atau berarti bambu yang menjadi kata dasar dari penamaan Ngawi merupakan sebuah nama tumbuhan yang sangat bernilai. Dalam kehidupan sehari-hari bambu banyak digunakan oleh masyarakat untuk membuat perkakas rumah tangga, alat kebersihan dan segala macam bentuk yang memudahkan kerja manusia. Dengan begitu tanaman ini berperan banyak dalam hal memajukan pembangunan.

Baca Juga :   Turis Asal Perancis dan Austria Turut Menikmati Ngawi Tourism Festival

Selain itu, dari segi sejarah bambu adalah alat yang digunakan pejuang kemerdekaan untuk melawan kolonialisme dan imperialisme yang melakukan penghisapan atas sumber daya alam dan sumber daya manusia pribumi.

Pada masa perjuangan kemerdekaan Indonesia, bambu runcing atau disebut juga dengan “Granggang parakan” menjadi salah satu senjata yang ditakuti lawan, sebab orang yang terkena senjata ini konon akan menderita sakit cukup lama dan mengerikan.

Dengan memahami arti dari kata Ngawi, tentu saja dapat disimpulkan bahwa penamaan tersebut bukan sembarang nama. Ngawi mencitrakan bagaimana sejarah, semangat, tujuan, peradaban, geografis, dan kultur seluruh elemen masyarakat yang masuk dalam lingkup wilayah administratif kabupaten Ngawi.

Sangat disayangkan sekali ketika pemuda Ngawi masih banyak yang buta terhadap asal-usul dan sejarah tempat kelahirannya sendiri. Padahal dari mengetahui tentang bentuk namanya saja, akan memunculkan semangat kecintaan untuk turut memperjuangan tradisi luhur para pendahulu guna perubahan kearah kemajuan.

Penulis sengaja memberi judul tulisan ini “Ngawisme” untuk menyeret pembaca pada periode abad 80’an, di mana pertentangan isme-isme di ranah global sangat kental terasa. Isme atau yang biasa disebut Paham atau Ideologi merupakan cita-cita dan tujuan segala sesuatu itu berjalan.

Begitu juga dengan Ngawisme, mengandung cita-cita dan tujuan yang selama ini coba diraih oleh Ngawi, haruslah mengarah pada semangat perubahan menuju kepada kemajuan yang lebih baik. Sesuai dengan slogan yang diusung yaitu “Ngawi Ramah”, menggambarkan kondisi sosial yang santun, berperadaban dan berkebudayaan.

Tentu saja pernyatan yang terkandung dalam slogan tersebut harus diiringi dengan bentuk kerja nyata pemerintah sebagai susunan pemimpin yang memiliki power dan pengaruh, yaitu memberdayakan masyarakat untuk turut serta berkomitmen dalam pembangunan baik di bidang pendidikan, ekonomi, sosial, politik, dan budaya.

Baca Juga :   Bupati Ngawi Ajak Optimalkan Peran Nelayan di Perairan Umum yang Ramah Lingkungan untuk Wujudkan Negeri Ngawi Ramah

Dari bidang Sejarah dan Budaya misalnya, menurut Dinas Pariwisata, wisata di Jatipangawitan mendominasi wisata sejarah mulai zaman prasejarah sampai Indonesia merdeka. Hal ini merupakan indikasi bahwasannya Ngawi sangat erat kaitannya dengan sejarah perjalanan bangsa.

Belum lagi dengan Museum Trinil, sebuah museum yang menyimpan fosil manusia Pithecantropus Erectus oleh Eugene Dubois serta hewan-hewan purba lainnya di Ngawi. Jika kesadaran akan nilai Sejarah dan Budaya ini dikelola dengan baik oleh pemerintah dengan arti diberdayakan, nilai-nilai ini bukan saja akan terus terawat keaslianya dan dikenal secara luas, tetapi potensi sebagai salah satu pilihan objek destinasi wisata, baik domestik maupun mancanegara akan lebih besar.

Dengan demikian perekonomian masyarakat sekitar akan ikut terangkat, sebab nilai Sejarah dan Budaya yang dikelola dengan baik tersebut menjadi daya pikat bagi wisatawan untuk berkunjung.

Maka penanaman kesadaran kepada pemuda akan nilai Sejarah dan Budaya begitu penting, untuk menumbuhkan sikap kecintaan pada daerahnya sehingga memunculkan semangat perbaikan guna kemajuan dan kesejahteraan masyarakatnya. Sikap semacam itu dapat diperoleh melalui pendidikan yang menyadarkan. Melalui kesadaran yang bernilai Sejarah, seorang manusia akan tau jati dirinya dan darimana dia berasal.

Sedangkan nilai Budaya sebagai penopang tatanan peradaban yang tertransformasi kedalam perilaku sosial, sehingga dengan tertanamnya dua kesadaran ini seorang manusia akan terhindar dari keterasingan akan daerah dan masyarakatnya.

Pembangunan Infrastruktur, Pemerataan Pendidikan dan Kesehatan, Kesejahteraan Ekonomi, Kebijakan Politik, Merawat Budaya dan Membentuk Peradaban merupakan tanggung jawab penuh pemuda Ngawi sebagai generasi yang akan menggantikan generasi yang sudah lalu.

__
Penulis : Jauharuddin Ahmad Akfiyan, pemuda asal Ngawi yang saat ini sedang menimba ilmu di Universitas Muhammadiyah Ponorogo dan aktif di Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Ponorogo Komisariat Fitrah. #MerdekaAdalahBergerak

Tags
Show More

KampoengNgawi

Media bebas yang menampilkan informasi seputar Ngawi, kabar ngawi, kabar desa, pemerintahan, pendidikan, budaya, dan lainnya. Email : redaksi@kampoengngawi.com

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

fourteen − 4 =

Back to top button
Close