Teater Magnit Ngawi genap berusia 23 tahun. Teater ini dilahirkan oleh sastrawan nasional era 2000 asli Ngawi; Kusprihyanto Namma, pada tanggal 22 Agustus 1993.
Berbeda dengan tahun sebelumya, seperti yang disampaikan oleh Hanifah Hikmawati, salah satu anggota Teater Magnit Ngawi, ulang tahun teater magnit ke-23 ini dirayakan di sanggar seni Madrasah Aliyah Negri (MAN) Ngawi, sekitar 500 penonton memadati halaman sanggar.
Hanifah menyampaikan bahwa acara ini didukung oleh seluruh keluarga besar Teater Magnit dengan anggotanya mencapai 500 orang, dan juga didukung oleh MAN Ngawi, serta menghadirkan beberapa sastrawan Jawa Timur, seperti Hardho Sayoko, Iskan, dan lain-lain, sebagai tamu undangan dan pengisi acara. Rutinitas acara tahunan ulang tahun ini tanpa dipungut biaya, termasuk parkir kendaraan semuanya gratis.
Tidak hanya menjadi wadah apresiasi seni, Teater Magnit mengedepankan aktivitas religius sebagai aktivitas sentral utamanya, hal ini dapat dilihat dari serangkaian acara ulang tahun tersebut mulai dari pukul 07 pagi khataman Al-Qur’an, kemudian sore setelah ashar diadakan dzikrul-ghafilin, petang setelah magrib dilakukan do’a khatmil-Qur’an dan tumpengan. Setelah itu, barulah acara puncak seni diadakan dengan dibuka pementasan musik oleh anggota muda Magnit. Pembukaan tersebut dilanjutkan dengan pementasan tari, baca puisi, pementasan monolog oleh anggota, dan acara intinya adalah pentas monolog yang dipersembahkan oleh salah satu group Srimulat, Pak Thohir.
Kepiawaian anggota Srimulat, Thohir dalam memerankan pentas monolognya dapat mengundang riuh penonton. Usianya yang tak lagi muda – 70 tahun – tidak menjadi kendala baginya dalam menggagas cagar budaya dalam bentuk seni. Ia tampil apik layaknya pemuda, semangat juangnya masih sangat tinggi. Tidak heran, penonton yang hadir dari kalangan anak muda dan para siswa itu pun menyapanya ketika acara selesai, ada yang meminta foto bersama, sharing, diskusi, dan menyalurkan apresiasi juang.
[quote]
“Mari kita jaga cagar budaya yang kian tergerus oleh modernitas zaman, manusia adalah pemain dalam panggung kehidupan, manusia dibekali akal dan hati dalam memilih pemain yang bagaimanakah yang akan dilakukan. Pemilihan pemain dalam panggung itulah yang akan menentukan jalan manusia pada kehidupan, termasuk duniawi dan akherat”, pesan Thohir.
[/quote]
Seni, adalah medium yang mewakili bahasa manusia, termasuk bahasa hasrat dalam melestarikan dan menjaga budaya yang dimiliki. Tidak heran, banyak sastrawan maupun seniman yag mempunyai nafas sama, nafas pemersatu, nafas yang akan menggiring pada kemanusiaan. Dan salah satu penggagas nafas itu adalah Kusprihyanto Namma, sedari muda, hidupnya tidak jauh dari teater. Dari teater, ia mengapresiasi segala gagasannya untuk menjaga budaya, khususnya budaya Jawa dengan bahasa Jawanya. Maka tak heran, Teater Magnit Ngawi masyhur dengan slogannya; Berbudaya Hingga Renta dalam Mengapresiasi Seni. Berbudaya dengan tujuan revitalisasi desa. (Tq)
































