Tadabburan bersama Cak Nun dan KiaiKanjeng Memperkuat Jati Diri Bangsa telah digelar tadi malam (29/08). Diawali dengan hujan deras mengguyur alun – alun Ngawi tempat dilaksanakannya Tadabburan bersama Emha Ainun Najib ini, hujan berkah yang menyeleksi para pentadabbur.
Sambutan Bupati Ngawi, Budi Sulistyono memulai tadabburan tadi malam. Meski hujan deras melanda, alun – alun Ngawi dipenuhi ribuan orang untuk bertadabbur bersama Cak Nun. Terlihat saat pembukaan acara, Cak Nun duduk bersila bersama dengan para pemimpin Kota Kripik ini. Di antaranya ada Bupati Ngawi, Pimpinan Muhammadiyah Ngawi , Perwakilan Pemuka Agama, dan Perwakilan Forum Kerukunan Beragama.
Ada beberapa hal yang disampaikan Cak Nun terkait Ngawi sebelum berwasilah kepada jamaah tadabbur malam tadi, di antaranya, Cak Nun menyebut bahwa Ngawi adalah anak bungsu dari Sejarah Indonesia dan secara Kabupaten adalah Anaknya Indonesia. Pesan Cak Nun kepada Bupati, Niatkan Semua untuk Allah.
[quote]
” Di Ngawi sudah mulai ada perpecahan kelompok – kelompok yang harus diwaspadai sejak dini. Mengerjakan kebaikan pamrihnya ke Alloh saja, lebih banyak yang kita tidak tahu daripada yang kita tahu, Niatkan semua untuk Alloh.” terang Cak Nun.
[/quote]
Lebih lanjut Cak Nun menjelaskan bahwa apabila sudah diserahkan kepada Allah, semuanya pasti baik. “Minta masuk surga iki wes pasti, tapi opo krasan? Di sana tidak ada dangdut dan facebook atau WhatsApp,” canda Cak Nun yang sangat mengandung maksud yang sangat tinggi.
Dalam acara tadabburan tadi malam, selain Bupati yang menyampaikan sambutan, ada pula Bapak Margiyanto dari Forum Kerukunan Antar Umat Beragama Ngawi, Bapak Romadhon Pimpinan Muhammadiyah Ngawi, dan ada perwakilan dari Pendeta Ngawi.
Pesan Cak Nun kepada seluruh Jamaah agar terus menaati dan menjalankan perintah Alloh agar apa yang kita inginkan menjadi sebuah kenyataan. “Perintah Allah iku -Wes to kowe lakonono, engko Aku sing gawe karepmu klakon- “.
Cak Nun juga menegaskan, harusnya kita malu jika bibir ini tidak digunakan untuk berdzikir tetapi malah untuk menjelek – jelakkan orang lain. Sudah sepantasnya kita merasa paling buruk dan banyak dosa, bukan malah merasa menjadi orang yang paling taat, paling hebat, dan atau paling baik. Semua itu akan memicu takabbur. Untuk apa kita mendapatkan kedekatan dengan Allah, tetapi menyingkirkan dan menyakitkan sesama?
Di akhir tadabburan Cak Nun memberikan penegasan bahwa Iqro’ itu tidak hanya membaca buku. Tetapi iqro oleh orang jawa itu di artikan “membaca kehidupan”. Nekad nya orang indonesia itu tidak sembarang nekad, tetapi dilandasi “Bismillah”.
Kita harus membebaskan diri dari pragmatisme. Opo2 ojo njaluk resep. Berproseslah, semua akan ketemu. Jangan pernah berhenti untuk beramal sholeh, jangan membatasi Amal sholeh hanya pada sholat, membaca Qur’an, dan haji. Amal Sholeh itu adalah berbuat baik. Jadi lakukan tugas apapun dengan baik. (cse)
































